Ghea berjalan menuju kantin yang berada di halaman depan sekolah. Di tengah jalan, dia melihat Anggie sedang berduaan dengan cowok yang dia lihat kemarin bersama Rinze. Ghea berhenti sebentar untuk mengamati Anggie. Dia penasaran siapa nama cowok barunya Anggie.
“ Kali ini siapa lagi cowok barunya? “ Ujarnya.
Ghea bertanya sama seorang cowok yang sedang melintas di depannya, dia pun langsung memanggil cowok itu dan segera menuju kearahnya.
“ Gw mau nanya, cowok yang sedang berduaan sama Anggie siapa namanya? “ Tanya Ghea langsung to the point sama cowok itu.
“ Itu namanya David, teman mantannya Anggie juga tapi enggak nyangka juga mereka bakal terang-terangan kayak gini setelah kepergok selingkuh sama Rendi. Kasihan juga si Rendi. “ Kata cowok itu menjelaskan.
“ Owh…thanks ya. “
Cowok itu langsung pergi meninggalkan Ghea yang masih memperhatikan Anggie dan David. Setelah itu dia melanjutkan perjalanannya ke kantin.
“ Hai Ghe ! “
“ Tumben sendirian? Biasanya elo berduaan kayak anak kembar, kemana-kemana selalu berdua. Mana kembaran elo? “ Tanya salah seorang temannya yang bernama Amel.
“ Rinze masih di kelas, lagi ngerjain PR. “ Jelas Ghea.
Ghea teringat waktu dia ketemu sama Anggie dengan cowok barunya, dia mencari informasi lagi sama Amel.
“ Mel, cowoknya Anggie sekarang baru lagi ya? Tadi gw liat dia lagi mojok sama cowok. Bukannya dia masih pacaran sama Rendi? “ Tanya Ghea sama Amel sambil minum fanta yang baru dibelinya.
“ Itu sich kemarin, sekarang dia pacaran sama David. Masa elo belum tau sich? Padahal beritanya udah menyebar kayak virus aja. Dalam sehari semua orang disini udah pada tau. Maklum Anggie kan seleb. “ Jawab Amel yang langsung menyerobot minuman yang sedang dipegang sama Ghea.
“ Trus Rendi gimana? “
“ Dia langsung putus sama Anggie 2 hari yang lalu. Kasihan juga tuch Rendi. Lagian salah juga sich dia, mau aja pacaran sama orang playgirl kayak gitu. “ Amel menyedot habis minuman punya Ghea, yang punya minuman hanya geleng-geleng kepala.
“ Owh..eh Mel, gw duluan ya dan makasih atas gosipnya. Elo mank ratunya gossip disekolah kita hehehehe “ canda Ghea dan meninggalkan Amel yang masih ingin di kantin.
“ Yoi ! “
Sebelumnya dia pergi ke toilet dulu karena ada panggilan alam yang menantinya. Setelah selesai, dia berjalan menuju ke perpus. Sesampainya di perpus, dia pergi ke rak buku yang berada paling pojok dan mengambil buku yang dicarinya, dia pun membaca buku itu.
BRUKKK !!!
Ghea mendengar sebuah buku jatuh dari raknya. Dia mencari ke arah buku itu jatuh. Setelah menemukan sumber suara buku yang jatuh, dia melihat seorang cewek sedang membereskan buku-buku yang jatuh dan segera membantunya karena memang lumayan banyak buku yang jatuh itu. Setelah selesai membereskan, Ghea hendak beranjak dari tempat itu ketika cewek itu memanggilnya.
“ Hei tunggu dulu ! “ Panggil cewek itu.
Ghea berbalik karena memang suara itu tertuju kearah dirinya, melihat kondisi perpus yang sepi berarti suara itu mengarah ke dirinya.
“ Ada apa ? “ Setelah berbalik ternyata yang memanggilnya adalah Anggie. Dia tidak tahu kalau orang yang ditolongnya itu adalah Anggie karena tidak terlalu memperhatikan.
“ Makasih ya udah nolongin. Pasti kalo enggak ada elo, mungkin gw masih beresin tuch buku. “ Kata Anggie.
“ It’s ok. Oh iya elo Anggie ya? Gw Ghea anak IPA. Elo pain disini sendirian? “
“ Ini udah emang hobi gw kali ke perpus, soalnya gw suka banget baca-baca buku selain itu memang sangat baik untuk nambah pengetahuan. “ Ujar Anggie.
Akhirnya mereka mengobrol panjang mulai dari soal buku, hobi masing-masing sampai soal pacar mereka obrolin. Mereka sampai lupa bahwa waktu istirahat telah habis dan nekat bolos sampai pelajaran terakhir.
Di kelas, Rinze mencari-cari Ghea. Dia sampai berbohong waktu guru menanyakan keberadaan Ghea, teman sebangkunya.
“ Ghea lagi di UKS, Bu ! Soalnya tamu bulanannya lagi datang. Ibu kan tau sendiri gimana rasanya jika tamu bulanan datang. “ Bohong Rinze kepada gurunya. Teman-temannya pun hanya tersenyum mendengar penjelasan dari Rinze.
“ Owh..ya udah kalau gitu sekarang coba kalian kerjakan soal yang ibu tulis di depan. “ Perintah guru akhirnya.
Rinze tidak bisa berkonsentrasi dengan pelajaran yang sedang diikutinya. Dia penasaran dimana Ghea berada sampai-sampai tidak masuk kelas.
“ Nich anak kemana sich? Kalo mau cabut bilang-bilang apa ! gw kan jadi bingung mau kasih alasan apa sama guru. “ Gerutu Rinze dalam hati.
Satu jam pelajaran telah selesai dan akhirnya bel pulang sekolah tiba. Rinze memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dan merapikan buku Ghea ke dalam tasnya Ghea.
“ Oke anak-anak, jangan lupa belajar di rumah ! “ Kata ibu guru memberi nasehat.
“ Baik bu guruuuu. “ Sahut murid-murid.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu Rinze menampakkan batang hidungnya juga di kelas. Rinze pun langsung mengomel-ngomel pada Ghea yang baru datang.
“ Elo kemana aja sich? Sampai cabut kelas segala, gw kan bingung mau kasih alasan apa waktu guru nanyain elo ada dimana. Gw bilang aja elo lagi dapet terus istirahat di UKS. “ Omel Rinze pada Ghea.
“ Sorry deh soalnya tadi gw ada keperluan mendadak. “ Kata Ghea sambil cengengesan.
“ Mangnya ada apaan sich? “
“ Ada aja. Pokoknya ntar liat aja diparkiran, alasan kenapa tadi gw enggak masuk kelas. “
“Ah..sok lu ! udah yuk balik. “
Sesampainya di parkiran, Rinze seperti melihat orang yang selama ini selalu menjadi mimpinya. Benar itu adalah Anggie. Ternyata tadi Ghea mengajak Anggie untuk pulang bareng bersama mereka. Tadinya Ghea ragu dengan niatnya untuk mengajak pulang bareng tetapi diluar dugaan, Anggie mengiyakan ajakan Ghea. Sebenarnya ini strategi Ghea untuk mendekatkan Rinze sama Anggie.
“ Itu dia pesenan elo. “ Ucap Ghea.
Rinze saking kagetnya sampai tidak bisa berkata apa-apa. Semua perasaannya menjadi satu antara senang dan kaget. Dia tidak menyangka akan mendapat surprise seperti ini.
“ Elo lagi enggak sedang bercanda kan, Ghe? “ Rinze masih tidak percaya dengan penglihatannya sendiri, dia sampai mencubit pipinya Ghea untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi belaka untuknya.
“ Auwwww !!! Sakit tau ! “ Jerit Ghea sampai membuat orang-orang menoleh kepada mereka termasuk Anggie yang sedang menunggu Ghea.
“ Sorry..sorry, gw kirain ini mimpi makanya gw mau mastiin. “
“ Mastiin sich mastiin tapi jangan pipi gw yang jadi korbannya ! “ Omel Ghea sama Rinze.
“ Sorry deh. “ Ucapnya sambil mengelus pipi Ghea.
Setelah pipinya dipegang sama Rinze, rasa sakit yang ada dipipinya hilang sudah tidak tahu kemana. Dia merasakan jantungnya berdetak tak karuan setelah pipinya dipegang sama Rinze dan memegangnya pipinya lagi untuk merasakan sentuhan dari Rinze. Ghea merasakan pipinya menjadi hangat setelah disentuh oleh Rinze.
“ Hei jadi pulang bareng? “ Anggie bertanya sama Ghea setelah sebelumnya melemparkan senyum kepada Rinze, yang diberi senyum menjadi salah tingkah sendiri.
Ghea baru mau menjawab Anggie ketika tiba-tiba handphonenya bordering keras.
“ Sorry, gw angkat telepon dulu. “ Pamitnya sebelum meninggalkan Anggie dan Rinze berduaan yang kini menjadi kikuk. Tidak lama kemudian, Ghea kembali dari menelepon.
“ Sorry banget, Nggie. Gw enggak bisa pulang bareng sama elo soalnya gw baru inget ada keperluan mendadak tapi elo bisa kok pulang bareng sama Rinze ! “ Usul Ghea.
Rinze yang mendengar usulan tiba-tiba dari Ghea menjadi bengong sendiri. Sekali lagi Rinze dibuatnya kaget.
“ Gimana ya tapi enggak apa-apa nich ? “ Tanya Anggie ragu.
“ Enggak apa-apa kok, teman gw ini orangnya baik kok. Enggak nyampe gigit. Udah disuntik rabies hehehehe. “ Jawab Ghea bercanda.
“ Gimana Rin ? “ Ghea bertanya sama Rinze yang sejak tadi bengong mendengar percakapan mereka.
“ Bisa kok. “ Jawab Rinze dengan menganggukkan kepala dengan cepat. Dia tak ingin melewatkan kesempatan yang baik ini.
“ Kalo gitu gw balik duluan ya, Bye ! “ Ucap Ghea.
“ Bye. “ Jawab Rinze dan Anggie bersamaan.
Sepeninggal Ghea, mereka menjadi berdiam diri selama beberapa detik. Sangat jelas sekali kecanggungan diantara mereka.
“ Yuk ! “ Ajak Rinze yang sebelumnya menenangkan hatinya. Dia tidak ingin membuat Anggie mengira yang aneh-aneh tentangnya.
Anggie pun mengikuti Rinze ke parkiran dan langsung naik ke mobil Rinze dan mobil itu akhirnya meninggalkan halaman sekolah. Rinze dan Anggie tidak tahu bahwa Ghea berbohong soal keperluan mendadaknya dan dia bersembunyi di balik pohon sampai mereka pergi. Setelah aman, Ghea baru keluar dan mengamati mobil Rinze dari kejauhan. Ghea sebenarnya tidak ingin meninggalkan mereka pulang bareng berduaan tetapi dia harus belajar untuk merelakan Rinze bersama Anggie karena dia tahu Rinze sangat mencintai Anggie.
♣♣♣
Selama diperjalanan, mereka saling diam, yang terdengar hanya suara musik yang dipasang oleh Rinze untuk mengisi kekosongan diantara mereka berdua hingga akhirnya perut Rinze berbunyi menandakan bahwa dia belum makan sejak disekolah. Anggie yang mendengarnya sampai tersenyum geli karena perut Rinze keroncongan.
“ Dah makan belum? Makan dulu yuk ! gw laper nich. “ Kata Rinze akhirnya. Sumpah dia malu banget sama Anggie.
“ Ayo ! sama gw juga belum makan tadi disekolah. “ Jawab Anggie yang masih menahan tawa.
Rinze langsung membelokkan mobilnya kearah PIM dan dalam 20 menit kemudian mereka telah sampai di PIM. Rinze mengambil karcis yang keluar dari mesin yang mengeluarkan karcis tanda parkir dan memarkirkan mobilnya ditempat yang teduh. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka masuk kedalam Mall.
“ Mau makan dimana? “ Tanya Rinze setelah mereka berkeliling sebentar untuk mencari tempat makan yang enak.
“ Terserah elo aja deh. Gw ngikut aja. “
“ Gimana kalau kita makan di Platinum? Katanya enak lho disana. “ Usul Rinze.
Anggie cuma mengangguk mendengar usulan dari Rinze dan mereka langsung pergi ketempat yang dituju. Setelah menemukan tempatnya, mereka masuk dan mencari tempat duduk yang nyaman dan tidak lama kemudian pelayan menghampiri mereka dan memberikan menu makanan yang ada ditempat itu. Pelayan itu dengan sabar menunggu saat mereka sedang memilih-milih makanan dan segera mencatat pesanan yang diucapkan oleh Rinze dan Anggie. Sebelum pergi membawa catatan pesanan mereka, pelayan itu mengulang lagi apa-apa saja yang dipesan agar nantinya tidak salah dan pelayan itupun berlalu dari hadapan mereka. Setelah pelayan itu pergi, mereka kembali diam. Rinze jengah dengan keadaan yang ada dan mencari topik untuk dibicarakan.
“ Gimana hubungan elo sama pacar elo? “ Tanya Rinze memulai percakapan.
“ Yang mana? “ Anggie belum tahu bahwa Rinze telah melihat dia beberapa hari yang lalu dengan David.
“ Waktu itu gw liat elo didaerah Jakarta Barat sama cowok elo tapi kayaknya itu cowok baru elo ya? “
“ Oh maksud elo David ! Gw sama dia baik-baik aja kok. Elo lagi ngapain disana? “ Tanya Anggie yang heran karena ternyata ada teman satu sekolahannya yang melihat dia sedang bermesraan dengan David.
Pembicaraan mereka tertunda karena pelayan akhirnya datang dengan membawa pesanan mereka dalam nampan. Rupanya apa yang mereka pesan lumayan banyak. Itu terlihat dari nampan yang dibawa oleh pelayan itu hampir penuh dengan pesanan mereka.
“ Gw lagi jalan-jalan aja sama Ghea kesana. Biasa hunting makanan yang enak-enak. “ Jawab Rinze sambil makan.
Anggie cuma ber-oh ria mendengar jawaban dari Rinze. Anggie juga langsung makan dan memperhatikan Rinze yang sedang makan dengan lahapnya, dia pun kembali tersenyum melihatnya.
“ Laper ya mbak? “ Goda Anggie.
“ He..he..he..iya laper banget soalnya tadi waktu istirahat, gw belum makan. “
“ Kenapa? “ Tanyanya lagi.
“ Ngerjain PR. “ Jawab Rinze yang sudah selesai makannya dan langsung minum karena tenggorokannya terasa seret.
“ Elo sama Ghea udah temanan lama ya? Gw perhatiin, elo tuh berdua selalu bersama-sama, udah kayak anak kembar aja. “
“ Enggak salah nich? Jadi selama ini dia juga merhatiin gw. “ Katanya dalam hati. Rinze menjadi ge-er sendiri.
“ Ghea tuch udah kayak soulmate gw aja. Mungkin kalau enggak ada dia, gw enggak bisa apa-apa dan mungkin juga kalau gw punya pacar, gw enggak bisa jauh dari dia. “ Jelas Rinze.
“ Enak ya kalau punya sahabat yang seperti elo berdua. “ Ucap Anggie. Rinze yang mendengarnya menjadi semangat dan merasa bahwa ini adalah kesempatannya untuk berdekatan dengan pujaan hatinya.
“ Gw juga mau kok jadi sahabat elo. “ Kata Rinze dengan bersungguh-sungguh.
“ Yang bener elo mau jadi sahabat gw? “ Tanya Anggie tidak percaya dengan ucapan Rinze bahwa dia mau menjadi sahabatnya.
Rinze mengangguk dengan pasti.
“ Oke kalau gitu. Makasih ya udah mau jadi teman gw. Gw senang banget. “ Anggie tersenyum senang karena mempunyai teman baru.
Setelah itu suasana menjadi berubah. Tak ada lagi atmosfir kecanggungan di antara mereka. Mereka mulai mengobrol apa saja dan Rinze tak henti-hentinya tersenyum. Dia merasa sangat senang karena bisa berdekatan dengan anggie seperti ini dan mereka telah selesai makan. Tadinya Anggie yang mau bayar semua apa yang telah mereka pesan tetapi dicegah oleh Rinze.
“ Gw yang traktir ! Sekarang elo kan udah jadi teman gw jadi ini untuk merayakannya. “ Kata Rinze akhirnya. Diapun meminta bill-nya kepada pelayan. Setelah selesai membayar, mereka pun keluar dari tempat itu.
“ Makasih ya udah bayarin. “
“ Hush ! Pamali ngomong kayak gitu sama teman. Abis ini mau kemana nich? Mau pulang atau muter-muter dulu disini? “
Anggie berpikir sejenak.
“ Kalau udah ada disini, ngapain pulang cepat-cepat? “ Usul Anggie seraya mengedipkan matanya. Rinze melihat ada kenakalan dimatanya dan dia menduga akan ada hal gila yang akan dilakukan mereka berdua.
Hilang sudah kekakuan diantara mereka berdua dan kini berganti dengan keakraban. Rinze senang bukan main karena bisa jalan berdua dengan Anggie, dia sampai saat ini masih belum percaya dengan apa yang dilakukannya bersama dengan Anggie seharian ini. Mulai dari tempat bermain, foto box bareng-bareng, hunting buku seperti novel dan komik mereka lakukan bersama dan waktu tak terasa telah berlalu dengan cepat. Matahari telah terbenam menyisakan sinar kemerahan memancar menggantikan teriknya cahaya matahari. Rinze mengantarkan Anggie sampai didepan rumahnya. Anggie menawarkan Rinze untuk mampir kedalam rumahnya tapi ditolak dengan halus oleh Rinze.
“ Thanks banget ya hari ini, gw memang lagi butuh refreshing. Mampir dulu yuk ! “ Ajak Anggie.
“ Makasih deh. Kapan-kapan aja. “
“ Oh iya kalau perlu bantuan atau teman curhat, jangan sungkan untuk hubungi gw. Pasti gw akan bantu semampu gw. “ Kata Rinze sambil tersenyum.
“ Iya gw pasti akan hubungi elo. “ Jawab Anggie.
“ Ya udah gw cabut dulu ya. “ Pamit Rinze.
Anggie memerhatikan Rinze dari kejauhan. Dia amat senang hari ini. Sudah lama dia tidak merasakan indahnya pertemanan karena semua teman-temannya kini menjauhinya. Mereka beranggapan bahwa Anggie adalah musuh dalam selimut dan sekarang dia mendapatkan seorang teman baru, yang benar-benar bisa dianggapnya teman. Itu yang didapatnya dari Rinze. Melihat mobil Rinze hilang ditengah kegelapan, baru Anggie masuk kerumahnya.
♣♣♣
Selama diperjalanan menuju kerumahnya, Rinze bernyanyi mengikuti lagu dari ADA BAND dengan semangat ’45-nya dan hatinya berbunga-bunga seperti lirik di lagu itu. Dia menyetel lagu itu dengan keras-keras.
Inikah surga cinta
Yang banyak orang pertanyakan
Atau hanya impian
Yang tiada pernah berakhir jua
Begitulah perasaan yang sekarang ada dihati Rinze. Dia tidak henti-hentinya tersenyum karena masih terbayang oleh kejadian yang dilakukannya bersama Anggie tadi siang. Sampai dirumah, dia langsung mandi dan langsung masuk ke kamarnya setelah selesai mandi. Saat mengenakan pakaian, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.
“ Siapa ? “ Tanya Rinze setengah berteriak. Dia malas untuk membuka pintu kamarnya.
“ Ini bibi, non. “ Ternyata yang mengetuk-ngetuk pintu kamarnya adalah pembantunya, Bi Inah.
Memang Rinze selalu melarang siapa saja untuk masuk ke kamarnya tanpa seizinnya terdahulu termasuk oleh ibunya sendiri. Dia tidak ingin privasinya diganggu oleh siapapun.
“ Masuk aja bik, pintunya enggak dikunci. “
“ Tadi ada telepon dari non Ghea. Dia nelepon berkali-kali lho non, trus dia titip pesan, katanya non disuruh nelpon dia. “
“ Oh.. ya udah makasih ya bik. “ Ucap Rinze.
Lalu bibi keluar dari kamar Rinze dan menuju ke dapur lagi, menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai. Rinze beranjak dari tempat tidur dan mengambil Handphonenya yang tidak jauh dari tempat tidurnya. Dia mencari nomor Ghea dalam phonebooknya dan segera melakukan panggilan dan tidak lama kemudian terdengar bunyi nada sambung.
“ Lama banget sich kasih kabarnya ! Handphone elo kenapa pake enggak diaktifin segala sich? Bikin orang penasaran aja ! “ Ghea langsung mengomel-ngomel menerima telepon dari Rinze dan tidak memberi kesempatan kepada Rinze untuk berbicara terlebih dahulu.
“ Waduh..waduh..waduh..tunggu dulu donk, beri gw kesempatan untuk ngomong. Gw jelasin satu-persatu dulu. Sorry untuk handphone yang enggak aktif karena elo kan tau sendiri gimana rasanya orang yang sedang jatuh cinta, enggak mau diganggu. “ Ledek Rinze.
“ Tapi bukan begitu caranya sama orang yang udah nolongin elo. Kalau tau gitu mendingan tadi gw enggak usah bantuin elo deh. Kacang lupa sam kulitnya. “ Kata Ghea merajuk.
“ Yeee ngambek..Cinta kamu jangan ngambek donk kalau kamu marah nanti siapa yang akan tolongin aku selalin kamu karena aku enggak bisa hidup tanpa kamu. “ Goda Rinze.
“ Huuu..gombal ! “ Cibir Ghea.
“ Ha..ha..ha..ha tapi sumpah deh gw tuch enggak bisa hidup tanpa elo. Elo tuch udah kayak nyokap gw aja yang selalu bantu gw disaat susah. Udah langka orang kayak elo, Ghe. Soalnya unik sich. “
“ Emangnya gw barang antik apa sampai dibilang langka dan unik ? “ Walaupun kesal dibilang langka tetapi dia tidak bisa bohong kalau dia suka dengan apa yang diucapkan oleh Rinze.
“ Udah jangan bercanda melulu. Udah makan belum elo ? “ Tanya Ghea.
“ Udah tadi sama Anggie di PIM. Makasih ya elo udah bantuin gw. Sumpah, sampai sekarang gw masih belum percaya sama kejadian tadi sore kalau tadi gw jalan Cuma berduaan sama Anggie. Senang banget gw ! “
“ Emangnya elo ngapain aja sama dia ? “ Tidak tahu kenapa Ghea menjadi penasaran dan ingin mendengarnya walaupun dia tahu, kalau dia akan tambah sakit bila mendengarnya.
“ Tadi gw disana Foto box, berduaan lho ! Itu foto bakal gw simpen baik-baik trus makan es krim. Oh iya gw baru tahu kalau dia suka baca novel makanya kita berdua cari-cari buku di Gramed. Pokoknya seru banget deh. “ Cerita Rinze dengan semangatnya.
Rinze tidak tahu bahwa Ghea telah menangis karena mendengar ceritanya. Rinze tidak menyadari bahwa Ghea sangat mencintainya seperti dia mencintai Anggie bahkan Ghea telah merelakan Rinze untuk dekat dengan orang lain dan membiarkan hatinya terluka. Ghea akan melakukan apapun untuk bisa melihat Rinze bahagia walaupun harus mengorbankan dirinya terluka karena dia tidak ingin melihat Rinze terluka dan sedih.
“ Wah asyik tuch !! Pasti elo senang banget ya udah bisa dekat sama dia. Selamat deh ! “ Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Ghea sambil menghapus air matanya yang sampai sekarang masih berlinang menghiasi pipinya.
“ Iya, gw senang banggggggeeeettttt. Akhirnya gw bisa dekat sama dia, mudah-mudahan aja nanti gw bisa ngungkapin perasaan gw ke dia. “
“ Amin. “ Ucap Ghea dengan tulus.
“ Hei, mendingan elo tidur gih, udah malem. Elo juga pasti capek kan abis jalan sama pujaan hati.” Ledek Ghea.
“ Iya nich capek banget. Elo juga tidur ya, jangan bergadang lho. Aku kan enggak mau liat kamu atit chayang he..he..he..he..good night. “ Goda Rinze sebelum telepon terputus. Dia memang paling senang kalau sudah menggoda sahabatnya.
Ghea langsung meletakkan handphonenya kembali diatas meja dan dia langsung merebahkan diri di kasur. Sekali lagi dia menangis, ingin rasanya mengakhiri hidupnya sendiri tetapi niat itu selalu dibuangnya bila melihat foto yang bertengger manis diatas meja.
Difoto itu ada Ghea dan Rinze yang sedang tersenyum dengan polosnya. Foto mereka berdua saat sedang disekolah. Disitu terlihat Rinze sedang memeluk Ghea dari belakang sambil mencolek pipi Ghea dengan es krim. Ghea mengambil foto itu dan mengelus wajah Rinze yang sedang tersenyum lebar dengan jari lentiknya. Dia bangkit dari tempat tidur dan menuju ke lemarinya. Setelah terbuka, dia mengambil sweater pemberian dari Rinze waktu dia sedang menggigil kedinginan dan awal dari perkenalan mereka. Sweater itu sampai sekarang disimpan baik olehnya karena itu yang bisa membuatnya bahagia dan sebagai pengganti Rinze disisinya. Malampun semakin larut, Ghea tertidur sambil memeluk sweater dan foto dirinya bersama Rinze.
♣♣♣
“ Bi, semalem mama pulang jam berapa? “ Tanya Rinze pada pembantunya saat sarapan pagi.
Rinze mengambil roti dan mengoleskan selai nanas kesukaannya diatas rotinya. Dia paling suka makan roti dulu sebelum memakan yang lainnya.
“ Nyonya semalem enggak pulang non tapi Cuma nelepon, katanya non jangan bandel dan jaga diri, gitu katanya non. “ Jelas Bibi yang langsung pergi ke dapur lagi.
“ Jangan bandel..Huh !! Memangnya siapa yang bandel ? “ Dengus Rinze langsung melahap habis rotinya.
Terdengar suara telepon bordering dan tidak lama kemudian Bibi muncul sambil membawa telepon dalam genggamannya. Bi Inah langsung menyerahkan teleponnya dan memberitahu bahwa yang menelepon adalah mamanya sendiri.
“ Makasih, Bi ! Ada apa, Ma ? Tumben mama telepon pagi-pagi ? “ Tanya Rinze dengan ketus.
“ Kok ngomongnya ketus banget sich sama mama? Memangnya kamu enggak kangen sama mama? “ Terdengar suara wanita yang lembut dari telepon seberang.
“ Memangnya mama perduli dengan perasaan Rinze, enggak kan ? Mama enggak akan perduli Rinze kangen atau enggak sama mama ! Mama Cuma perduli sama kerjaan mama doank !! “ Sengit Rinze.
Dadanya mulai sesak dan bergemuruh bila mendengar suara mamanya. Dia tidak bisa berbohong bahwa dia sangat rindu dengan mamanya sekaligus membencinya. Dua perasaan yang tidak bisa lepas sampai sekarang.
“ Kamu jangan ngomong begitu sama mama. Mama kerja buat kamu sayang, buat keluarga kita. “ Suara mamanya mulai terdengar serak karena menahan air matanya.
“ Bullshit dengan semua omongan mama !! “ Rinze langsung menutup teleponnya. Di dapur, Bi Inah hanya bisa melihat Rinze yang sedang menahan amarahnya. Dia iba setiap kali Rinze seperti itu karena dia mengenal Rinze dari kecil.
Rinze tidak melanjutkan sarapannya karena sudah tidak mood lagi. Dia langsung mengambil tas dan kunci mobilnya didalam kamar. Saat itu juga dia langsung berangkat ke sekolah. Didalam mobil, Rinze menyetir sambil menangis. Masih terngiang suara mamanya yang serak. Rinze tahu bahwa mamanya menangis karena perbuatannya. Rinze menumpahkan semua perasaan yang selama ini dipendamnya dan melampiaskannya kepada mamanya. Dia sebenarnya tidak ingin menyalahkan mamanya. Dia sendiri juga tahu bahwa mamanya telah bekerja keras untuk menghidupi semua kebutuhannya, sekolah dan keluarganya tapi kenapa mamanya selalu tidak ada waktu untuk Rinze walau hanya sebentar, pikirannya sedang berkecamuk.
“ Damn it !!! “ Umpat Rinze seraya memukul kemudi mobilnya.
Sekolah saat ini masih sepi dan hanya beberapa murid saja yang sudah nampak di sekolah. Rinze menuju kelasnya dan menaruh sembarangan tasnya dibangkunya. Dia sendiri langsung pergi ke toilet untuk membasuh mukanya yang habis menangis didalam mobil, dia tidak ingin mukanya yang kusut terlihat oleh Ghea karena tidak ingin Ghea menjadi ikut repot dan sedih. Pukul 06.45 WIB sekolah sudah mulai ramai oleh murid-murid. Di dalam kelas Rinze menanti kedatangan sahabatnya. Rinze melihat jam tangannya.
“ Kok Ghea belum datang juga sich? Udah waktunya mau masuk. “ Ucapnya dalam hati.Ghea sendiri datang ke sekolah pukul 07.30 WIB. Dia kesiangan karena semalam tidur jam 2 pagi. Rinze yang melihatnya heran, kenapa Ghea bisa terlambat karena Ghea selama ini tidak pernah terlambat ke sekolah.
“ Sst..kenapa terlambat? “ Tanyanya setelah Ghea dipersilakan masuk oleh gurunya.
“ Kesiangan. “ Jawabnya.
“ Memangnya elo tidur jam berapa? “
“ Jam 2, eh gw tidur bentar ya kalau guru kesini, tolong bangunin gw. “ Ghea langsung merebahkan kepalanya diatas meja.
Rinze mengangguk. Untung mereka duduk dibarisan belakang jadi bisa tertolong oleh badan teman mereka yang gemuk duduk didepan mereka dan menjadi tameng untuk Ghea yang ingin tidur dan tidak kelihatan oleh guru yang sedang mengajar. Selama jam pelajaran berlangsung, Ghea tertidur pulas dan itu berlangsung sampai istirahat.
“ Gimana udah mendingan? “ Tanya Rinze yang melihat Ghea sudah bangun. Dia penasaran kenapa Ghea sampai bisa terlambat datang kesekolah.
“ Udah puas gw tidurnya. “ Jawab Ghea.
Rinze melihat ada yang aneh dengan muka Ghea, wajahnya pucat ! Dia langsung menempelkan keningnya di kening Ghea untuk memastikan apakah Ghea sakit atau tidak. Ternyata dugaannya benar, kening Ghea panas.
“ Ghe, badan elo panas banget ! Gw minta izinin pulang ya? “ Usul Rinze.
“ Enggak usah. Nanti adem sendiri. “ Kilahnya berbohong.
“ Dulu waktu ketemu, elo juga ngomongnya kayak gitu. “
Ghea hanya tersenyum mendengarnya karena Rinze ternyata masih ingat dengan pertemuan mereka pertama kali.
“ Udah sarapan belum? Gw beliin ya, elo tunggu disini aja. “
Tetapi Ghea langsung menahannya sebelum Rinze pergi ke kantin.
“ Gw sendiri aja yang beli, gw masih kuat jalan. “ Tolak Ghea yang tidak ingin Rinze repot.
“ Tapi Ghe..”
Ghea langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kantin. Belum jauh berjalan, Ghea sudah pingsan didepan kelas.
“ Ghea !!! “ Teriak Rinze melihat sahabatnya pingsan.
Rinze langsung membawa Ghea pulang ke rumahnya setelah meminta izin dari guru piket.
Rumah Ghea sepi tidak ada orang tuanya. Ternyata mamanya sedang pergi ke sukabumi sedangkan papanya pergi kekantor. Dirumah Ghea tidak ada pembantu jadi yang mengerjakan pekerjaan rumah adalah Ghea atau mamanya sendiri. Rinze mengompres kening Ghea dengan handuk yang sudah direndam dengan air dingin dan mencucinya tiap 5 menit sekali. Dia berjalan keluar rumah untuk membeli bubur nasi untuk Ghea karena dia ingat Ghea belum sarapan tadi pagi. Sekembali dari beli bubur, Ghea sudah siuman.
“ Elo makan dulu ya, gw udah beli bubur nich. “ Kata Rinze sambil menuangkan bubur kedalam mangkok.
“ Ayo makan, gw suapin. “
Ghea memakan bubur dengan pelan-pelan, dia masih merasakan kepalanya pusing dan nyut-nyutan. Rinze mengamati kamar Ghea sangat berantakan dan matanya melihat foto dan sweaternya diatas tempat tidur.
“ Semalem kenapa, kok tidur jam 2 pagi? Elo nyuruh orang buat cepat tidur tapi elo sendiri enggak tidur. “ Rinze tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya sama Ghea.
“ Enggak ada apa-apa kok. “ Jawab Ghea.
“ Elo kalau ada masalah cerita donk ke gw, mungkin gw bisa bantu elo. “
Ghea langsung menatap wajah Rinze lekat-lekat. Rinze sendiri tidak tahu apa arti dalam tatapan Ghea untuknya dan langsung berpaling untuk mengalihkan dari tatapan Ghea.
“ Elo mau jadi pacar gw? “ Tanya Ghea dengan tiba-tiba.
“ Hah, apa Ghe? “ Tanya Rinze mengerutkan kening. Dia tidak mendengar ucapan Ghea barusan karena sedang sibuk membereskan kamar Ghea yang berantakan. Ghea tahu bahwa dia keceplosan berbicara karena itu dia mengganti pembicaraan.
“ Maksud gw, kenapa bantu gw? Bukannya elo ada latihan basket sama teman-teman elo? “
Sumpah, Rinze lupa sama sekali kalau dia hari ini ada latihan basket dengan teman-temannya. Dia belum pernah bolos dengan latihannya sendiri tapi ketika melihat Ghea jatuh pingsan, dia langsung melupakan segalanya, sekolahnya bahkan latihannya dan segera menolong Ghea.
“ Elo ngomong apa sich Ghe? Elo kan sahabat terbaik gw, pasti gw bakal nolongin elo. “
“ Awas ya kalau elo ngomong kayak gitu lagi ! Gw enggak suka dengarnya, janji? “ Rinze menyentil pelan kepala Ghea dan mengacungkan jari kelingkingnya.
Ghea tersenyum sendiri melihat tingkah sahabat dan orang yang sangat dicintainya itu dan mengacungkan jari kelingkingnya. Mereka mengaitkan jari bersama-sama, setelah itu mereka tertawa dan saling berpelukan.
“ Maafin gw ya selalu ngerepotin elo bahkan sekarang gw sibuk sendiri mikirin tentang Anggie.” Ucap Rinze masih berpelukan.
Ghea hanya mengangguk.
“ Hm..gimana kalau malam ini, gw nginap disini. BT gw dirumah sendirian lagipula nyokap elo lagi pergi ke sukabumi kan? Hitung-hitung gantian gw nginap disini. “ Ujar Rinze.
“ Mendingan elo sekarang istirahat, gw enggak mau liat elo sakit lagi. “ Rinze membantu Ghea berbaring.
Sehabis membantu Ghea, Rinze pergi ke dapur untuk membuat teh manis hangat dan kembali lagi kekamar Ghea.
“ Mendingan elo cerita ke gw, elo ada masalah apa ? “ Tanya Rinze lalu memberikan teh manisnya ke Ghea.
Yang ditanya kaget, entah mau bilang atau tidak sama sekali pada temannya itu.
“ Kok elo bisa tau? “ Tanya Ghea.
“ Ghea sayang, gw ini kenal elo udah lama bukan baru kemarin-kemarin gw kenal elo. “
Mau tidak mau, Ghea harus cerita semuanya pada Rinze.
“ Gw lagi suka sama seseorang ! “
Rinze yang lagi minum sampai tersedak dibuatnya. Dia tidak menyangka bahwa temannya sedang menyukai seseorang. Ternyata benar feelling dia selama ini, kenapa selama ini Ghea bersikap aneh.
“ Are you sure? Kenapa enggak cerita sama gw? So, siapa orang yang beruntung itu? Pasti tuch cowok beruntung banget bisa dapetin cewek secakep dan sebaik elo. “ Rinze menduga-duga siapa cowok yang sedang disukai Ghea.
Memang mulai dari kelas 1, Ghea sudah mempunyai banyak penggemar bahkan ada dari sekolah lain yang menyukai Ghea. Pada saat hari Val’s day banyak yang mengajaknya pergi, entah itu pergi untuk makan, jalan-jalan atau nonton film di bioskop tapi tidak tahu kenapa semuanya ditolak oleh Ghea dan sampai akhirnya hari Val’s day dirayakan oleh mereka berdua dirumah Rinze.
Sekali lagi Ghea hanya bisa diam dan menatap Rinze yang sedang sibuk dengan pikirannya. Dia tidak bisa bilang bahwa orang yang disukainya itu bukan cowok melainkan cewek yang ada dihadapannya sekarang yang dia sukai.
“ Dia enggak beruntung karena gw bertepuk sebelah tangan. Dia udah punya orang yang disukai. “
Rinze kaget mendengarnya karena nada bicara Ghea sangat sedih. Selama ini Ghea menyimpannya sendirian perasaan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Rinze menyesali dirinya sendiri karena tidak ada untuk Ghea disaat sedih malahan dia hanya memikirkan diri sendiri.
“ Apa elo udah bilang sama dia kalau elo suka sama dia? Siapa tau dia bakal nerima elo? “ Tanya Rinze.
“ Gw enggak bilang, gw tau kalau dia suka banget sama cewek itu, udah enggak ada kesempatan buat gw lagipula gw udah cukup senang kalau liat dia bahagia sama cewek itu. “ Ucap Ghea dengan tersenyum pahit.
“ Memangnya siapa sich nama cowok itu? Perlu dihajar tuch orang, masa nyia-nyiain cewek kayak elo. Kalau gw jadi dia, gw enggak akan nyia-nyiain elo bahkan gw akan mempertahankan elo sebagai cewek gw. Sekarang elo kasih tau namanya siapa? Nanti gw kasih tau ke dia bahwa ada cewek yang dengan tulus suka sama dia. “ Kata Rinze dengan penuh emosi. Tanpa sadar dia sudah mengepalkan tangannya saking gregetan.
“ Elo enggak perlu tau siapa orangnya, lagipula sekarang gw juga udah rela kok liat dia bahagia bersama orang lain. “ Jawab Ghea.
Rinze sedih melihat Ghea yang sedih seperti itu, dia ingin sekali menghajar cowok yang sudah menyakiti Ghea karena menurut Rinze, Ghea tidak layak mendapat perlakuan seperti ini dan tanpa terasa hari sudah semakin sore. Rinze lupa bahwa dia belum membawa baju ganti untuk menginap disini dan menemani sahabatnya yang sedang sakit.
“ Ya udah sekarang tenangin diri elo dan istirahat, gw mau balik ke rumah sebentar buat ambil baju dan kesini lagi secepatnya. Sekarang gw siapin air hangat buat elo mandi. “ Rinze baru saja mau ke kamar mandi sebelum tangannya dipegang sama Ghea.
“ Makasih ya elo udah bantuin gw. “ Ujar Ghea.
“ No problem. Gw sayang sama elo melebihi diri gw sendiri dan gw enggak mau liat elo sedih kayak gini. “ Balas Rinze membelai rambut Ghea dengan lembut dan setelah itu langsung ke dapur untuk memasak air hangat untuk Ghea.
Setelah Rinze pergi, Ghea hanya bisa terduduk dan termenung. Ghea tahu kalau Rinze hanya menyayanginya sebagai sahabat dan itu membuatnya menjadi sedih.
“ Ghe ! Air hangatnya udah siap nich, buruan sana mandi entar keburu dingin lagi. Elo bisa masuk angina kalau kayak gitu, apa perlu ge mandiin ha..ha..ha..ha “ Ucap Rinze usil.
“ Enggak mauuuu “ Jawab Ghea sambil meleletkan lidah.
“ Ha..ha..ha..segitunya. Yo weiz kalau enggak mau. Kalau gitu gw balik dulu ya, gw mau ambil baju entar gw kesini lagi. “ Rinze berlalu dari hadapan Ghea.
Dia langsung menghidupkan mobilnya dan mengendarainya lumayan cepat agar bisa cepat sampai di rumahnya. Dia tidak ingin meninggalkan Ghea sendirian dirumahnya karena memang dirumah Ghea tidak ada orang.Sesampainya dirumah, Rinze melihat sebuah mobil yang sangat dikenalnya bahkan dia sangat merindukan dengan orang yang menggunakan mobil ini. Sudah lama sekali Rinze tidak mengobrol panjang dan berbagi cerita. Sekalinya bertemu atau mengobrol selalu saja ada masalah. Ketika dia masuk ke dalam rumah, dia melihat seorang wanita yang tidak terlalu tua sedang duduk mengobrol dengan pembantunya.
“ Mama ! “ Ucap Rinze menahan perasaan rindu.
“ Hai sayang..kamu kok baru pulang ? Mama udah daritadi lho nunggu kamu. Mama kangen banget sama kamu. “ Wanita itu menghampiri Rinze dan memeluk anaknya dengan erat.
“ Aku abis dari rumah Ghea, dia lagi sakit. “ Jawabnya yang masih kaget dengan kehadiran mamanya.
Rinze tidak menyangka bahwa mamanya sudah pulang, pulang ke rumah mereka.
“ Memangnya dia sakit apa? Udah dibawa ke dokter? Mama udah dengar dari Bibi kalau Ghea sering menginap disini. Oh iya kamu udah makan malam belum? Kita makan bareng yuk, Mama udah masakin masakan kesukaan kamu tuch. “ Ajak mamanya.
Rinze mengikuti mamanya menuju ke ruang makan. Sudah lama sekali Rinze tidak makan malam bersama mamanya lagi, dia sudah tidak ingat kapan terakhir kalinya mereka makan malam bersama. Di meja makan terlihat sudah penuh dengan makanan kesukaannya, ternyata mamanya masih ingat dengan makanan kesukaannya.
“ Kok masih berdiri? Ayo makan, nanti maag kamu kambuh lagi lho kalau enggak cepat makan. “
“ Mama masih ingat dengan makanan kesukaan aku? “ Tanya Rinze yang masih berdiri di samping meja makan.
“ Kamu ngomong apa sich? Tentu saja mama masih ingat sayang. Kamu kira mama akan lupa, itu enggak mungkin sayang. Ya udah ayo duduk, nanti makanannya keburu dingin. “
mereka akhirnya makan bersama dan mengobrol apa saja karena mereka jarang bertemu. Mulanya suasana cukup baik dan menyenangkan karena Rinze sudah berdamai dengan dirinya sendiri untuk tidak ribut lagi dengan mamanya dan menikmati kebersamaan mereka sampai akhirnya handphone mamanya berdering. Rinze merasakan firasat buruk akan hal ini.
“ Ya halo, ada apa? Ya, saya segera kesana. “ Telepon pun terputus.
“ Kenapa? Urusan kantor lagi? “ Tanya Rinze dingin.
Mamanya diam, tidak merespon pertanyaan dari anaknya. Dia tahu bahwa anaknya akan marah lagi sama dia.
“ Ya udah tunggu apa lagi ! sana pergi !! “ Bentak Rinze yang sudah tidak bisa menahan lagi emosinya.
“ Rin, dengerin mama dulu…” Belum selesai Nia berbicara, ucapannya sudah terpotong.
“ kalau gitu buat apa mama pulang kalau Cuma sebentar dan Cuma untuk nyakitin Rinze!! Aku tuh kangen sama mama tapi mama enggak pernah ada waktu untuk Rinze walau sebentar! “
Nia terdiam mendengar ucapan dari Rinze.
“ Aku benci sama mama !!! “ Ucap Rinze sambil lari ke atas.
Sesampai di kamarnya, Rinze langsung mengambil baju dalam lemarinya dan memasukkannya kedalam tasnya. Dia melihat sebentar jadwal pelajarannya lalu mengambil beberapa buku untuk pelajarannya di sekolah besok. Setelah semuanya selesai, dia kembali turun dari kamarnya. Rinze melihat mamanya sudah berdiri di dekat tangga.
“ Kamu mau kemana malam-malam begini? “ Tanya Nia.
Rinze melihat mata mamanya sudah berlinangan airmata. Sebenarnya dia tidak ingin melihat mamanya menangis karena prbuatannya tetapi mengingat kejadian tadi, dia menjadi marah lagi sama mamanya.
“ Bukan urusan mama! Sudah sana cepetan pergi, katanya ada pekerjaan penting! “ Rinze pun langsung berjalan keluar rumah dan membanting pintunya dengan keras.
Di dalam mobil, Rinze tampak ngos-ngosan karena tidak bisa mengontrol emosinya yang telah ribut dengan mamanya. Dia pun mengatur napasnya terlebih dahulu dan mengusap air matanya yang telah keluar setelah itu barulah dia menghidupkan mobilnya dan menyetel musik keras-keras untuk meredakan emosinya.
“ Brengsek!! Buat apa dia pulang ke rumah kalau seperti ini jadinya?! “ Umpat Rinze.
Dalam perjalanan ke rumah Ghea, Rinze melewati sebuah toko buah-buahan. Dia pun langsung teringat dengan sahabatnya yang lagi sakit dan berhenti sebentar untuk mampir di toko tersebut. Rinze membeli beberapa buah-buahan seperti pear, anggur dan jeruk. Rinze mengambil buah anggur lebih banyak daripada yang lainnya karena Ghea sangat menyukai buah anggur tersebut. Setelah memilih dan membayar belanjaannya, dia melanjutkan perjalanannya kembali. Tidak lama kemudian Rinze sampai di rumah Ghea. Rinze melihat papanya Ghea sudah pulang dari kantor.
“ Malam Om. “ Sapanya seraya tersenyum.
“ Malam juga. Oh kamu Rin, Om kira siapa! Nyariin Ghea ya? Dia di kamarnya tuh lagi rebahan. “ Ujar papanya Ghea dengan ramah.
“ Iya Om. Kalau begitu saya ke kamarnya dulu. Permisi Om. “ Pamit Rinze dan meninggalkan papanya Ghea yang sedang menonton tv.
Di depan kamar Ghea, Rinze membenahi matanya terlebih dahulu yang sembab karena sehabis menangis. Dia tidak ingin membenani Ghea dengan masalahnya. Sudah cukup masalah yang dialami Ghea dengan menyukai orang yang menurutnya brengsek. Baru kali ini Rinze melihat sahabatnya begitu sedih karena menyukai seseorang. Berarti Ghea sangat menyukainya bahkan sanggup melepaskan cowok yang disukainya bersama dengan orang lain untuk kebahagiaan orang itu sendiri. Rinze membuka pintu pelan-pelan, dia tidak ingin Ghea terganggu dengan kehadirannya. Setelah masuk ke dalam Rinze melihat Ghea sedang tertidur lelap dengan selimut yang menyelimutinya separuh badannya. Rupanya Ghea tertidur dari pengaruh obat yang telah diminumnya, itu terlihat dari atas meja yang terdapat beberapa obat dan segelas air. Rinze menghampiri Ghea dan meletakkan buah-buahan yang telah dibelinya di atas meja lalu duduk disamping sahabatnya itu. Ditatapnya wajah Ghea dan memegang tangannya.
“ Maafin gw Ghe, gw bukan sahabat yang baik buat elo. “ Ucapnya lirih.
Karena merasakan tangannya di pegang, Ghea pun terbangun dan melihat Rinze duduk disampingnya dengan wajah yang begitu sedih.
“ Ada apa Rin? “
“ Enggak ada apa-apa. Oh iya tadi gw beli buah-buahan kesukaan elo tuh. Ada anggur lho. “ Jawab Rinze sambil memeperlihatkan buah-buahan yang dibelinya.
“ Ehm makasih ya..kok lama banget kesininya? “ Tanya Ghea.
“ Tadi nyokap pulang jadi nemenin dia dulu. “ Terang Rinze.
“ Elo enggak ribut sama nyokap elo kan? “ Tanya Ghea yang melihat wajah Rinze berbeda dengan sebelum dia ke rumahnya.
“ Enggak, enggak ribut kok. “ Jawab Rinze berbohong.
“ Oh bagus deh. Nah gitu donk akur, masa setiap ketemu ribut melulu. Kan enggak enak. “
“ Iya..iya. nah sekarang elo tidur lagi biar besok bisa sekolah. “ Perintah Rinze.
Ghea mengangguk dan melanjutkan tidurnya. Rinze merapikan selimut Ghea lalu mematikan lampu kamar. Rinze sendiri tidur di samping Ghea dan beberapa detik kemudian yang terdengar hanya bunyi suara jangkrik yang menemani mereka tidur hingga pagi. Hari ini telah dilalui dengan perasaan yang lelah. Mudah-mudahan hari esok menanti mereka dengan perasaan yang ceria dan semangat untuk menjalani semua aktivitas masing-masing.
♣♣♣
Burung berkicau dengan sangat merdunya dan udarapun juga sangat cerah. Hari ini Rinze dan Ghea berencana untuk pergi jalan-jalan karena hari ini adalah hari minggu. Mereka pergi ke sebuah Mall yang berlokasi di Jakarta Barat.
“ Elo mau makan dimana Ghe? “ Rinze berpakaian sangat santai, dia memakai celana jeans pendek dan mengenakan sweater berwarna abu-abu.
“ Hm.. gimana kalau di Tamani Kafe. “ usul Ghea.
Mereka punya hobi yang sama yaitu hunting makanan yang enak-enak. Mereka sudah sering mendatangi tempat makanan yang ada dimana saja.
“ Boleh juga tuch. Let’s go. “
Sesampainya disana mereka langsung memesan makanan. Ghea yang pesan makanan sedangkan Rinze memilih tempat yang nyaman. Dia melihat pemandangan diluar dan langsung memutuskan untuk duduk diluar. Pemandangan yang sangat indah itulah Rinze memilih untuk duduk diluar.
“ Makanan datang. “ Ghea datang bersama pelayan yang membawa makanan mereka.
Rinze menerimanya dengan sangat antusias tetapi sebelumnya dia menarik kursi untuk Ghea duduk. Ghea begitu sangat senang dengan perhatian Rinze untuknya.
“ Elo enggak diomelin kan sama nyokap elo gara-gara nginep dirumah gw terus kan? Gw jadi enggak enak sama nyokap elo nich. Ntar sangkanya gw culik anaknya. “ dia sebenarnya merasa tidak enak banget dengan mamanya Ghea walau pun dia juga kenal dekat dengan beliau.
“ Tenang aja kali. Elo kaya baru kenal nyokap gw aja. “ Kata Ghea.
“ Tapi lain kali gantian oke. Elo yang nginep dirumah gw. “
“ Iya..iya. “ Ucap Rinze.
Saat ingin sedang makan,Rinze tidak sengaja melihat seorang cewek yang sedang berciuman diseberang jalan. Dia sepertinya mengenal cewek yang sedang berciuman itu karena cewek itulah yang selalu hadir dalam mimpi-mimpinya.
“ itu kan kalau enggak salah Anggie terus siapa lagi cowok yang ciuman sama Anggie. “ Ucapnya dalam hati.
“ Heh..elo ngapain sich? Kayak liat hantu aja. “ Tanya Ghea yang heran melihat wajah Rinze melongo.
“ Eh Ghe..Ghe…itu kalau enggak salah Anggie kan? “
“ Yang mana? “ Ghea celingukan mencari sosok Anggie ditengah keramaian.
“ Itu !! Cewek yang pake tank top putih sama pake topi. “ Tunjuk Rinze memberi arah.
“ Iya tuch. Lagi ngapain dia disitu tapi siapa tuch yang ada disampingnya. “ Tanya Ghea yang melihat cowok itu dengan mesra memeluk Anggie.
Rinze yang melihatnya menjadi cemburu. Dia tidak menyangka akan melihat Anggie dipeluk dan berciuman sama orang lain dengan mata kepalanya sendiri.
“ Kita pulang yuk Ghe, gw jadi enggak mood lagi buat makan. “
“ Yach kok gitu? Makanannya aja belum habis. “ Tetapi setelah melihat wajah Rinze, Ghea pun langsung beranjak dari tempat makan mereka.
Selama diperjalanan, Rinze tidak bersuara sama sekali. Dia hanya diam dan pandangan matanya lurus kedepan, seakan dia bisa menemukan sosok Anggie didepan mobilnya.
“ Rin..apa elo segitu mencintai Anggie sampai enggak bisa melihat disekitar elo bahwa ada orang yang sangat mencintai elo.” Gumam Ghea yang melihat Rinze menyetir tanpa bersuara dan tidak menoleh kepadanya.
Akhirnya mereka sampai juga didepan rumah Ghea dan Rinze mampir sebentar karena merasa tidak enak dengan mamanya Ghea yang sedang ada didepan teras sedang minum teh.
“ Eh Rinze..makan dulu yuk ! Tante habis masak nich. “ Ajak mamanya Ghea setelah tahu bahwa yang datang adalah Rinze, sahabat anaknya.
“ Makasih Tan..saya udah makan kok diluar sama Ghea. Nanti deh saya kesini lagi makan masakan Tante tapi Tante jangan kaget karena saya makannya banyak loh hehehehe..” Canda Rinze yang ditanggapi senyuman oleh mamanya Ghea.
“ Kamu tuch bisa aja. “ Ucap mamanya Ghea.
Ghea hanya diam melihat Rinze dan mamanya bercanda. Ghea tidak ikut mengobrol karena sedang sedih mengetahui kenyataan bahwa Rinze sangat mencintai Anggie.
“ Ya udah Tante udah malam. Saya permisi pamit dulu,Tan. “ Pamit Rinze sambil mencium tangan mamanya Ghea.
Mamanya Ghea atau Ibu Dian memang sudah dianggap sebagai ibunya sendiri oleh Rinze. Beliau merupakan sosok yang hangat dan ibu idaman yang selama ini diinginkan oleh Rinze. Berbeda dengan mamanya yang selalu sibuk bekerja dan tak pernah ada waktu untuknya. Sebaliknya, mamanya Ghea pun juga sudah menganggap Rinze seperti anaknya.
“ Ya udah kamu hati-hati ya di jalan. Awas jangan sampai mengebut. “ Perintah Ibu Dian pada Rinze dan Rinze mengangguk sambil berjalan ke mobilnya. Ghea mengantarkannya sampai pintu gerbang.
“ Gw balik ya dan makasih udah nemenin gw hari ini. “ Ucap Rinze sambil menghidupkan mobilnya.
“ Hati-hati ya ! inget kata nyokap gw, jangan ngebut. “ kata Ghea mengingatkan Rinze kembali.
Rinze hanya tersenyum mendengarnya lalu dia menjalankan mobilnya. Ghea masih memperhatikannya sampai mobil itu hilang dibelokan dan dia pun masuk kerumahnya.
♣♣♣
Langit sudah berubah menjadi gelap dan malampun datang mengganti siang dan sore. Lampu dijalanan sudah mulai dihidupkan dan suasana jalan mulai sepi karena sudah ada yang masuk kedalam rumahnya tetapi tak sedikit yang masih nampak di jalan. Di kamarnya,Ghea berbaring ditempat tidurnya. Dia masih terbayang dengan kejadian tadi siang, dia ingat jelas bagaimana wajah Rinze melihat Anggie bersama cowok barunya. Sebuah lagu dari NAFF mengalun keluar dari ipodnya. Ghea pun mengingat kembali waktu pertama kali dia bertemu Rinze.
Hujan turun sangat deras mewarnai sore hari ini. Sepertinya langit sudah capek dengan cuaca yang selalu panas karenanya hari ini diturunkan hujan untuk membasahi jalanan yang kering karena cuaca selalu panas. Di halaman sekolah dekat pintu gerbang terlihat seorang cewek yang sedang berteduh untuk menunggu hujan berhenti. Dia tidak membawa apapun seperti payung atau jaket karena tidak menyangka akan turun hujan padahal dia mempunyai alergi terhadap udara dingin. Itu adalah Ghea. Dia berharap agar hujan segera berhenti tetapi bukannya berhenti, malah hujannya bertambah deras. Di sampingnya ada seorang cewek yang mengenakan sweater. Ghea mengenal cewek itu, namanya Rinze. Semua murid disini pasti mengenal dengan Rinze karena cewek itu termasuk orang yang ramah dan murah senyum. Banyak yang mengenal dengan Rinze, termasuk salah satunya dia sendiri. Rinze melihat Ghea sedang menggigil dengan wajah yang pucat. Rinze kasihan melihatnya, dia dengan segera melepaskan sweater yang sedang dikenakannya itu dan memberikannya kepada Ghea.
“ Ini elo pake, muka elo pucat banget tuch. “ Kata Rinze tiba-tiba dan mengagetkan Ghea yang sedang melamun.
“ Makasih tapi enggak apa-apa kok. Ntar juga baik sendiri. “ Tolak Ghea halus.
Tapi Rinze tidak menyerah begitu saja.
“ Udah pake aja. “ Paksa Rinze.
Ghea akhirnya memakai sweater pemberian dari Rinze. Ternyata sweater itu kebesaran dibadan Ghea. Rinze yang melihatnya menjadi tertawa, dia seperti melihat anak kecil saja.
“ Gimana udah mendingan ? “
“ Iya. Udah mendingan, makasih ya. “ kata Ghea.
Rinze mengangguk sambil tersenyum. Ghea merasakan wajahnya menjadi hangat setelah melihat Rinze tersenyum. Sejak saat itu, mereka menjadi akrab. Rinze sering membantu Ghea disaat dia sedang membutuhkan pertolongan dan benih-benih cinta di hati Ghea mulai tumbuh sampai saat ini. Karena itu dia selalu menolak cowok yang ingin menjadi pacarnya karena dia sendiri seorang lesbian juga.
“ Rin, kenapa yang elo liat Cuma Anggie, Anggie dan Anggie ? Kenapa elo enggak liat gw bukan sebagai teman elo melainkan orang lain yang mencintai elo. Gw cinta sama elo, Rin ! “ Gumam Ghea.
Ghea tidak bisa mengungkapkan perasaannya kepada Rinze karena dia tahu, Rinze hanya mencintai Anggie. Ghea cukup senang dengan berada disisi Rinze dan menjadi temannya dan membantu Rinze untuk dekat dengan Anggie walaupun dia sendiri juga cemburu melihatnya.
“ Gw enggak akan nyakitin elo seperti Anggie. “ Ucapnya lagi dan dia serius dengan ucapannya karena dia sangat mencintai Rinze.
Malam semakin larut dan Ghea pun jatuh tertidur dengan membawa bayang-bayang Rinze dalam mimpinya. Sepertinya cinta segitiga seorang lesbian sedang terjadi dikehidupan remaja-remaja ini.
♣♣♣
Pagi ini Rinze berangkat sekolah dengan senyum menghiasi bibirnya, dia senang karena bisa bertemu lagi dengan pujaan hatinya setelah kemarin libur. Dia kangen sekali dengan Anggie bahkan sepertinya dia lupa dengan kejadian kemarin, melihat Anggie dengan cowok lain.
“ Kenapa elo ? pagi-pagi udah kayak orang gila, Senyum-senyum sendiri. Elo masih waras kan ? “ Ghea memegang jidatnya Rinze untuk memastikan bahwa temannya itu sakit atau tidak.
“ Obat elo abis ya ? “ Ghea masih heran melihat Rinze seperti itu.
“ Hari ini gw bakal deketin Anggie, gw pengen kenal lebih jauh semua hal tentang dia. “
Ghea yang mendengarnya hanya bisa diam.
“ Liat gw Rin !!! Liat gw sebagai orang yang mencintai elo. Apa Cuma ada Anggie di hati elo ? “ Teriak Ghea dalam hatinya tetapi dia hanya bisa menahan perasaannya.
“ Nah gitu donk ! Dari dulu apa elo deketin Anggie. Gw kira elo bakal diam aja. “ Ejek Ghea.
“ Thanks ya atas dukungannya. Gw berterima kasih banget sama Tuhan karena udah memberikan sahabat kayak elo. “ Rinze memeluk Ghea dengan erat.
“ Sama-sama. “ Ghea membalas pelukan Rinze dan diam-diam menitikkan air matanya tetapi secepat itu pula dia menghapusnya karena tidak ingin Rinze tahu kesedihannya.
Ghea tahu bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan tetapi itu tidak membuatnya untuk jauh dengan Rinze. Dia ingin selalu ada di samping Rinze, saat Rinze sedang kesusahan ataupun senang dan dia senang dengan tindakannya itu. Cinta adalah memberi. Dia hanya bisa memberi dan memberi, itu baru namanya cinta sejati dan Ghea yakin, suatu saat Rinze akan membalas perasaan cintanya.
Bel tanda masuk telah berbunyi. Murid-murid segera masuk ke kelasnya masing-masing untuk mengikuti pelajaran. Rinze dan Ghea segera duduk di bangkunya karena guru telah masuk kelas mereka untuk memberikan pelajaran. Selama pelajaran berlangsung, Rinze mengikutinya dengan semangat. Diam-diam Ghea merasa lega karena Rinze telah kembali bersemangat seperti Rinze yang dia kenal.
Di depan kelasnya, Anggie lewat. Rinze yang seperti mempunyai radar segera menoleh keluar.
“ Duh istirahat kok rasanya lama banget ya? Gw pengen cepet-cepet keluar nich. “ Bisik Rinze.
“ Sabar kenapa, mank ada apaan sich sampai pengen cepet-cepet istirahat? “ Tanya Ghea setengah berbisik juga.
“ Tadi Anggie lewat. Duh cakep banget dia hari ini. “ Rinze langsung berkhayal tentang Anggie.
“ Ternyata cinta itu bisa membuat teman gw jadi orang bego ya termasuk gw. “ Ghea keceplosan ngomong di depan Rinze.
“ Ah..apa Ghe? “ Rupanya Rinze tidak mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Ghea.
Ghea bersyukur banget karena Rinze tidak mendengar apa yang barusan dia katakana itu. Dia tidak ingin Rinze sampai bertanya-tanya kepadanya.
“ Ah enggak kok. Bukan apa-apa. “
Ghea tertolong karena bel istirahat telah berbunyi. Dia jadi punya alasan untuk menghindar.
“ Udah istirahat nich. Katanya mau cepet-cepet keluar? Kok masih disini? “ Kata Ghea.
“ Pengennya sich gitu tapi gw baru inget kalo gw belum ngerjain PR. “ Rinze sangat menyesal sekali karena semalam dia lupa mengerjakan PR padahal hari ini dia sudah menyiapkan mental untuk PDKT sama Anggie.
“ Gw pinjam PR elo donk Ghe? “ Pintanya pada Ghea.
“ Ambil aja di tas. Oh iya, elo mau nitip apa? Mumpung gw lagi baik nich. “ Tanya Ghea sebelum meninggalkan kelas.
“ Kalo bisa, gw nitip Anggie aja deh hehehehe. “ Canda Rinze.
“ Enggak janji ya untuk yang satu itu. “ Ghea langsung berlalu dari hadapan Rinze.
♣♣♣
Duk!!! Duk!!! Duk!!! Ditengah lapangan terlihat seorang perempuan dengan tinggi 163 cm sedang mendribble bolanya untuk mencetak three point padahal siang itu cuaca sedang tidak bersahabat dari panasnya sinar matahari yang sangat terik. Dia dengan seriusnya memasukkan bola dan tidak peduli dengan keringatnya yang mengalir dengan deras tetapi dari tadi tidak ada satu pun bola yang masuk dengan baik dan ini adalah bola yang kesekian kali gagal dimasukkannya.
“ Ugh sial !!! “ Kata cewek itu.
Rupanya ada sesuatu yang mengganggu pikirannya sehingga dia menyudahi latihannya, memang selama ini dia selalu kepikiran dengan seseorang yang telah menyedot habis pikirannya dan membuat dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Menggangu malam-malamnya yang selama ini tenang, tak terusik.
“ Bego ! kenapa gw selalu mikirin dia sich? “ Batinnya dalam hati.
“ Rinze apa yang elo pikirin selama ini adalah sesuatu yang enggak lazim “.
Ternyata nama cewek itu adalah Rinze, cewek yang hobi bermain basket tetapi tidak pernah mau ikut ekskul basket padahal posisi untuk kapten dan bisa mengikuti pertandingan selalu terbuka lebar untuk dia tetapi semua ditolaknya dengan alasan takut ketinggalan pelajaran dan membuat ketua klub basket kecewa karena penolakannya. Mereka berharap agar Rinze bergabung dan memenangkan pertandingan yang selama ini mereka impi-impikan namun Rinze cukup senang dengan hobinya itu.
“ Anggie… Anggie… elo berhasil bikin gw kaya orang gila ! “ katanya dalam hati.
Satu lagi rahasia tentang Rinze, dia mempunyai orientasi seksual yang berbeda dengan teman-temannya yang selama ini ditutupinya hingga sekarang dan sekarang ini dia sedang menyukai seseorang yang bernama Anggie. Dia mengenal Anggie pada waktu MOS dimulai. Sebelumnya dia belum mengetahui tentang dirinya yang tidak normal tapi lama kelamaan, dia mengetahui dirinya lesbian pada waktu ketemu Anggie. Bertemu dengan cewek yang bisa membuat hatinya berdebar-debar tak karuan, Membuat dirinya tak bisa tenang berhari-hari.
Hari itu penyakit usilnya kumat dan korban-korbannya adalah teman-teman sekelasnya. Semua tas teman-temannya dimasukkan kodok, kontan seisi kelas berisik karena kedatangan tamu yang tidak diundang. Rinze yang melihat itu tertawa terbahak-bahak karena dia berhasil mengerjai teman-temannya. Alhasil teman-temannya tahu bahwa yang mengerjai mereka adalah Rinze. Mereka berniat untuk membalasnya tetapi Rinze berhasil kabur dan bersembunyi. Dia bersembunyi diruang perpustakaan karena tempat itu selalu sepi oleh pengunjung. Mereka mengejar Rinze yang berlari-lari dengan tawa mengejek. Itu membuat teman-temannya menjadi gemas dan semakin ingin menangkap Rinze. Mereka selalu kena dikerjai oleh Rinze yang sudah dikenal oleh semua teman-temannya sebagai tukang usil. Sehari tanpa usil, membuat hidupnya hampa. Itulah bagi Rinze.
Saat ingin mengejar, mereka kehilangan jejak Rinze. Mereka tak bisa menemukannya ditempat manapun. Mereka tidak mengetahui bahwa tukang usil itu bersembunyi ditempat yang tak terduga. Rinze buru-buru masuk ke perpus karena takut tertangkap oleh teman-temannya dan tanpa sadar dia telah menutup pintu dengan keras padahal pintu akan terkunci dengan otomatis bila ditutup dengan keras atau kencang-kencang. Dia mengintip dibalik jendela untuk mengetahui apakah teman-temannya masih mengejarnya atau tidak. Setelah dilihatnya, ternyata aman-aman saja. Dia berniat untuk keluar tetapi setelah gagang pintu ditarik-tarik, pintu itu tetap tidak bisa terbuka dan habis sudah kesabarannya.
“ Woiiii… buka pintunya !!! “ kata Rinze sambil berteriak.
Ceklek !!! Ceklek !!! Tetap saja pintu tidak bisa dibuka walaupun sudah digedor-gedor olehnya. Akhirnya Rinze menyerah karena usahanya tidak berhasil.
“ Damn it !!! “ umpat Rinze.
Memang emosi Rinze sudah reda tapi itu tidak membuat dia berhenti mengomel, Rinze menebarkan pandangannya kesekeliling ruangan itu dan menangkap sosok seorang cewek sedang tertidur disudut pojok ruangan. Dia menghampiri cewek itu dan ingin melihat siapa cewek yang sedang tertidur itu. Rupanya wajah cewek itu tertutup oleh rambut panjangnya dan membuat Rinze tidak bisa melihat wajahnya karena tidak ingin mengganggu, dia duduk diseberang cewek itu sambil mengambil sebuah buku dan membacanya. Sebenarnya dia berniat untuk membaca buku itu tetapi pandangannya tersita kearah cewek itu. Akhirnya wajah cewek itu terlihat juga karena rambut yang menutupi wajahnya telah tertiup oleh angin.
“ Wow… manis banget nich cewek.” Ujarnya dalam hati.
Tiba-tiba jantungnya berdebar-debar melihat pesona yang terpancar diwajah cewek itu. Ternyata benar apa yang dikatakan orang-orang selama ini bahwa kecantikan seseorang akan terlihat dengan jelas saat orang itu tertidur.
“ Qo gw jadi deg-degan gini sich? “ ujarnya dalam hati.
Akhirnya cewek itu terbangun dan menyadari bahwa ada orang lain selain dia di perpus. Rupanya cewek itu sadar kalau dia sedang diperhatikan oleh orang itu. Tadinya dia ingin diam saja tetapi karena dia dilihatin terus dan tak terbiasa bila ada orang yang melihatnya terus-menerus. Akhirnya cewek itu berbicara juga.
“ Ada apa ? qo liatin gw kaya gitu ? “ Tanya cewek itu pada Rinze.
“ Ada yang aneh sama muka gw ? “
“ Eh..hm..maaf enggak ada apa-apa kok.” Ujar Rinze gelagapan.
“ Oh… gw kirain ada iler dimuka gw hehehehe…” kata cewek itu sambil tertawa.
“ Oh ya gw belum kenal sama elo. Kenalin nama gw Anggie. “ katanya sambil mengulurkan tangan tapi yang diajak kenalan malah bengong.
“ Qo bengong? Tenang aja tangan gw ngga ada ilernya kok. “ kata Anggie sambil tersenyum dan itu membuat Rinze semakin tenggelam dalam lamunannya tapi itu tidak berlangsung lama.
“ Oh… iya. Gw Rinze. “ jawab Rinze membalas ulurkan tangan.
Rinze mengatur debaran jantungnya yang berdetak sangat cepat. Dia tidak mau kalau Anggie sampai mendengar suara detak jantungnya dan dia berusaha mengatur nafasnya yang naik turun.
“ Qo elo bisa ada disini ? Setau gw orang kaya elo paling anti sama ruangan kaya beginian dech. Sorry ya klo gw ngomong kaya gitu. “ Tanya Anggie memulai percakapan.
Memang setahu Anggie, selama ini jarang yang masuk ke ruang Perpustakaan dan menjadi sepi oleh pengunjung karena peminatnya sangat sedikit. Kalaupun ramai, itu juga dikarenakan murid-murid disini belum ada yang mengerjakan PR tetapi kebanyakan pasti menyontek dari pekerjaan teman-temannya.
“ Duh ngomong apa nich gw? Masa bilang kalo gw lagi ngumpet. “ pikirnya dalam hati.
“ Halooooooo… apa ada orang? “ Tanya Anggie sambil menggerak-gerakkan tangannya didepan wajah Rinze.
“ Gw lagi ngumpet disini soalnya gw dikejar-kejar sama teman-teman gw. “ aku Rinze akhirnya.
“ Kenapa? Kayak maling aja dikejar-kejar. “ ujar Anggie sambil tersenyum.
“ Gw kirain elo mau belajar disini. “
“ Enggak kok. “ kata Rinze.
“ Elo sendiri lagi ngapain disini,Nggie? Kok bisa tidur disini? “ Rinze juga tidak menyangka ada orang di perpus.
“ Gw lagi baca-baca aja, eh malah ketiduran. “ jelas Anggie.
“ Eh.. gw duluan ya coz ada pelajaran matematika nich. Elo kan tau sendiri gurunya killer abis, ngga bisa mentolerir muridnya telat sedikit. “ kata Anggie.
Memang guru matematika mereka killer banget. Beliau tidak bisa mentolerir murid yang datang terlambat pada waktu jam pelajarannya. Anggie berjalan kearah pintu tapi…
“ Kok ngga bisa dibuka ya? Kayanya tadi ngga terkunci dech? “ Tanya Anggie pada dirinya sendiri dengan heran.
“ Sorry… itu gara-gara gw nutup pintunya kencang-kencang. “ ucap Rinze merasa tidak enak.
“ APA !!! “
“ Duh gimana nich, udah gurunya killer banget lagi. “
Anggie tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi sama dia dan mengira-ngira hukuman apa yang akan menanti dirinya. Rinze yang melihatnya menjadi sangat bersalah sama Anggie karena dia yang menyebabkan hal ini terjadi.
“ Maafin gw ya. Gw ngga nyangka bakal kaya gini jadinya. “ ucap Rinze yang merasa sangat bersalah.
“ Ngga apa-apa kok. Elo ngga salah. Gw nya aja yang salah, baca kok sampai ketiduran. “ kata Anggie yang juga merasa tidak enak sama Rinze.
Sumpah mati saat itu Rinze mendengar alunan biola dari dalam hatinya. Saat itu juga Rinze jatuh cinta pada Anggie, Dia tidak tahu apa ini yang namanya ‘ love at the first sight ‘ karena dia baru merasakannya sekarang. Mulai sejak saat itu, dia selalu terbayang wajah manis Anggie.
“ Woi.. bengong aja ! lagi mikirin apa sich? “ Tanya seorang temannya yang dari tadi merhatiin Rinze dari kejauhan.
“ Eh elo Ghe.. sialan ngagetin gw aja ! elo mau gw kena serangan jantung apa? “ omel Rinze sama temannya yang bernama Ghea.
Ghea sendiri teman sekelas sekaligus teman sebangkunya. Mereka menjadi akrab pada waktu kelas 1 semester genap karena ada pertukaran kelas dan kebetulan mereka menjadi sekelas.
“ Ahh… Gw tau. Pasti lagi mikirin Anggie ya? “ goda Ghea yang sudah menduga kalau Rinze sedang memikirkan Anggie.
Ghea tahu semua hal yang berkaitan dengan Rinze begitu pun sebaliknya. Walaupun Rinze seorang lesbian, dia bisa menerima apapun kondisi temannya itu sehingga mereka menjadi teman akrab sampai sekarang. Tadinya Rinze tidak ingin Ghea mengetahui bahwa dia seorang lines tetapi setelah mendengar penjelasan dari temannya itu bahwa dia tidak membeda-bedakan teman apalagi sampai menjauhi, dia memberanikan diri untuk bercerita. Dalam hatinya, dia sangat bersyukur mempunyai teman seperti Ghea.
“ Iya nich gw lagi mikirin dia. Dimanapun gw berada, selalu aja muncul bayang-bayang dia.” Jawab Rinze dengan polosnya.
“ Kalau gitu, kenapa elo enggak tunjukin aja perasaan elo yang sebenarnya ke dia? Elo kan suka sama dia dari dulu.” Usul Ghea pada temannya itu.
“ Gw pengen banget Ghe… pengen banget tapi gw takut dijauhin sama dia, gara-gara tau tentang perasaan suka gw ke dia.”
“ Elo tau sendiri kan sekarang dia lagi pacaran sama cowok yang bernama Rendi.”
“ Iya sich, gw juga tau. Ya udahlah jangan mikirin dia terus abis ini kan ada ulangan matematika. Elo udah belajar belum?” Tanya Ghea. Ghea sudah tahu apa jawabannya karena dia tahu pasti Rinze tidak menyukai pelajaran itu.
“ Aduh gw lupa… kenapa sich ada pelajaran matematika di dunia ini?” keluh Rinze sambil merengut.
Ghea yang mendengarnya menjadi tertawa.
“ Tenang aja. Gw pasti bantuin elo.” Kata Ghea sambil mengedipkan mata.
“ Benar?? Wah elo emang sahabat gw yang paling baik, manis dan pengertian sama gw.” Puji Rinze sambil memeluk sahabatnya itu.
“ Eittt.. jangan senang dulu. Harus ada imbalannya, Pe… ce… l ayam hehehehe..”
“ Yeee !!! gw kirain elo benar-benar mau bantuin gw tapi ngga apa-apa deh buat elo apa sich yang enggak.” Kata Rinze akhirnya.
Mereka pun balik ke kelasnya. Rinze tidak bisa membayangkan apa jadinya dia nanti kalau saja tidak ada sahabatnya itu. Mungkin dia bisa stress. Ghea pun juga berpikiran hal yang sama seperti Rinze, beruntung bisa mempunyai sahabat seperti Rinze. Sebenarnya ada suatu hal yang disembunyikan selama ini oleh Ghea pada sahabatnya itu. Dia tidak ingin Rinze mengetahui hal itu sekarang karena tidak ingin merusak hubungan persahabatan yang ada sekarang. Di dalam kelas, Rinze stress banget menghadapi soal yang ada di depannya dan ingin sekali membakar soal itu tetapi ditahannya karena tidak ingin mendapat nilai merah. Melihat adanya kesempatan, Rinze menyontek pekerjaan dari Ghea dan Ghea hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu.
“ Rinze… Rinze.” Ujarnya dalam hati. Akhirnya surga dunia tiba juga, bel pulang sekolah telah berbunyi. Rinze yang mendengarnya menjadi senang. Dia pun mengumpulkan kertas jawabannya bersama Ghea dan menyerahkan pada gurunya yang sudah menunggu.
“ Ghe, elo jadi nginep kan dirumah gw?” Tanya Rinze mengingatkan kepada Ghea.
“ Siip…”
Dalam perjalanan pulang, mereka bercanda-canda di dalam mobil sambil mendengarkan lagu dari band kesukaan mereka, TATU. Menggosipkan apa saja bahkan sampai men-cak teman-teman mereka. Rinze memberhentikan mobilnya di supermarket,dia ingin membeli makanan ringan untuk mereka berdua dirumahnya. Di supermarket, Rinze mengambil makanan apa saja sudah seperti membeli untuk stock bulanan. Ghea hanya menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya membeli makanan yang banyak untuk mereka berdua. Selesai membeli snack, mereka melanjutkan perjalanan kerumah Rinze.
♣♣♣
Di lain jalan, terlihat sepasang remaja sedang bertengkar, disampingnya ada mobil yang bertuliskan plat nomor B 123 NDI. Berarti itu adalah mobil Rendi, cowoknya Anggie. Rendi berdiri berjauhan dengan Anggie sambil melipat tangannya. Dia sudah gerah dengan gossip-gossip yang ada dibelakangnya bahwa Anggie telah berselingkuh. Sekarang dia meminta penjelasan kepada kekasihnya apakah gossip yang didengarnya selama ini benar.
“ Mendingan elo ngomong yang sebenarnya sekarang karena gw udah tau apa yang elo lakuin dibelakang gw selama ini ! “ kata Rendi setengah berteriak.
“ Emangnya apa yang gw lakuin?” balas Anggie pura-pura tidak tahu.
“ Elo selingkuh kan dibelakang gw selama ini sama David, teman gw sendiri !”
“ Elo tega ya !” Rendi tak habis pikir bila benar Anggie mengkhianatinya.
“ ohh itu…gw kirain apaan.” Ucap Anggie enteng.
“ Berarti bener feeling gw dan gossip-gossip yang ada selama ini?”
Rendi tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini, cewek yang dia sayang selama ini ternyata selingkuh dengan temannya sendiri. Mereka pun terdiam sampai Anggie akhirnya berkata yang sangat menyakitkan untuk Rendi.
“ Teman elo aja yang deketin gw duluan jadi bukan salah gw donk kalau gw selingkuh. “
PLAAKK !!!
Tamparan yang lumayan keras mendarat di pipi sebelah kiri Anggie yang halus.
“ Elo emang cewek brengsek ! Kita putus !! ”
Rendi berjalan kearah mobilnya dan meninggalkan Anggie sendirian ditepi jalan yang hanya diam melihat Rendi pergi meninggalkannya.
Anggie hanya bisa mengelus-elus pipinya yang habis ditampar oleh Rendi sambil tersenyum kecut dan dia pun berjalan untuk mencari taksi. Sebuah taksi lewat didepannya, dia memanggil taksi dan memberhentikannya. Selama perjalanan, Anggie hanya diam sambil melihat keluar jendela. Entah kenapa hidupnya merasa hambar, bukan karena telah putus dengan Rendi melainkan ada hal lain yang dia sendiri juga tidak tahu apa itu dan putus dengan Rendi adalah hal yang biasa bagi Anggie yang selama ini sudah dilakukannya dan tak ada penyesalan didirinya karena menurut Anggie, putus satu tumbuh seribu.
“ Mau kemana Neng ? “ Tanya supir taksi itu akhirnya karena Anggie tak bersuara dan tidak memberitahukan tujuannya.
“ Jalan Alam Asri Pondok Indah, Pak.” Jawab Anggie sambil menyandarkan kepalanya di bangku dan memejamkan matanya.
♣♣♣
Sesampainya dirumah Rinze, mereka langsung bikin pesta sendiri. Maklum dia anak tunggal dan rumahnya sepi cuma ada dua pembantunya dan dia sendiri dirumah itu. Orang tuanya sudah bercerai sejak dia berusia 10 tahun. Kini dia tinggal bersama ibunya yang selalu sibuk dengan pekerjaannya sampai-sampai Rinze merasa tidak mempunyai orang tua sama sekali maka dari itu, Rinze sering mengajak Ghea untuk menginap dirumahnya tetapi untungnya walaupun dia anak dari keluarga yang broken home, dia tidak terbawa oleh pergaulan bebas yang sedang trend belakangan ini dikalangan remaja.
“ Akhirnya sampe juga, gw kebelakang dulu ya, Ghe.” Rinze langsung kebelakang rumahnya yang entah mau kemana.
Ghea pun langsung menghampiri lemari es untuk mengambil minuman bahkan Ghea sendiri hapal betul dengan isi rumah ini dan menyalakan DVD di ruang keluarga seperti rumahnya sendiri, tidak lama kemudian terdengar lagu dari TATU. Tak lama kemudian, Rinze langsung bergabung bersama Ghea. Dia sudah berganti pakaian, dia hanya memakai celana pendek dengan baju yang menutupi celananya.
“ Aduh cakep banget. “ ujar Ghea dalam hati.
“ Mau makan apa, Ghe? Kayanya pembantu gw lagi enggak ada nich. “ Tanya Rinze sambil berjalan ke dapur.
“ Terserah elo aja. Gw ngikut. “ teriak Ghea karena Rinze sudah ada di dapur.
Rinze mengambil bahan makanan yang ada di kulkas dan ingin membuat nasi goreng. Maklum yang dia bisa hanya membuat nasi goreng dan mie instan. 15 menit kemudian nasi goreng buatannya matang. Dia pun langsung memanggil Ghea.
“ Ghe..makanannya udah jadi nich. “
Ghea yang mendengarnya langsung menuju ruang makan. Ghea bisa mencium aroma yang sangat lezat saat ia mendatangi Rinze untuk makan bersama.
“ Kayanya enak nich. “
“ Siapa dulu donk yang bikin. “ ucap Rinze membanggakan dirinya sendiri didepan Ghea.
“ PD banget elo !” cibir Ghea.
“ Tapi enggak apa-apa deh. Untuk yang satu ini, gw acungin jempol deh. “
“ Hehehe..gitu donk. Ya udah makan dulu gih. “ ajak Rinze.
Akhirnya malam pun tiba. Seperti biasa mamanya Rinze belum pulang. Beliau biasanya pulang tengah malam bahkan pernah tidak pulang sama sekali. Sebenarnya Rinze sangat kesepian dirumahnya yang besar itu tetapi sekarang sudah agak mendingan semenjak Ghea sering menginap dirumahnya. Kalau sudah seperti ini, mereka pasti mengobrol dan ujung-ujungnya akan bergadang, seperti mala mini, mereka mengobrol sampai pagi.
“ Rin.. yang elo suka dari Anggie apanya sich? Padahal elo tau sendiri, dia kan playgirl, suka gonta-ganti cowok? “ Tanya Ghea saat rebahan disamping Rinze.
“ Gw juga tau tapi coba elo perhatiin deh. Dia tuh kesepian banget. Gw tau banget gimana rasanya kesepian. Enggak punya orang yang nemenin saat kita butuh teman untuk berbagi rasa. Seperti halnya gw. Gw disini kesepian. Nyokap selalu sibuk dengan pekerjaannya, sampai gw pun rasa, sebenarnya gw punya orang tua apa enggak sich tapi gw beruntung karena punya sahabat kayak elo yang selalu nemenin gw. “
“ Gw juga pengen banget jagain dia, gw enggak ingin dia sampai terluka. “ ucap Rinze sambil memeluk gulingnya. “ Elo sendiri Ghe, kok gw liat belum punya cowok? Kayanya kalo gw perhatiin, banyak banget cowok yang pengen jadi pacar elo. “ tanyanya menatap Ghea.
Ghea Cuma diam mendengar pertanyaan dari Rinze, dia sebenarnya juga sudah tahu kalau cowok banyak yang suka dan ingin menjadi pacarnya tapi ditolak semua karena dihatinya Cuma ada satu orang yang akan mengisi hari-hari dia dengan kebahagiaan dan cinta.
“ Haloooww..Ghea yang cantik, kok diem aja sich? “ Rinze heran melihat Ghea yang hanya diam.
“ Gw enggak mau punya pacar dulu. Mendingan pikirin sekolah dulu dech, urusan pacaran itu mah belakangan. Kalau udah jodoh enggak bakal kemana. “ ungkap Ghea mengedipkan matanya.
“ Ah sok tahu elo tapi gw dukung deh. “
“ Tidur yuk Ghe, mata gw udah lowbatt nich. “ ajak Rinze sambil mematikan lampu kamarnya.
“ Good night. “ kata Ghea.
“ Night too. “
Dalam hitungan beberapa detik, Rinze sudah terlelap dan menuju ke alam mimpi. Rinze tidak menyadari bahwa Ghea belum tidur dan masih memperhatikan Rinze yang sudah tidur. Sebetulnya dia ingin sekali cerita kepada Rinze tentang hal yang selama ini dia sembunyikan tetapi melihat wajah polos Rinze, Ghea mengurungkan niatnya untuk bercerita karena tidak ingin membuat temannya itu menjadi susah. Tidak lama kemudian Ghea pun menyusul tidur tetapi sebelum dia tidur, dia mendaratkan sebuah ciuman di bibir Rinze.
“ Semoga mimpi indah. “ Bisik Ghea.
♣♣♣
aku melihat Tuhan dalam dirimu..
Aku harus berbuat apa?
Aku melihat Tuhan dalam dirimu..
Aku harus berbuat apa?
Kepalaku terus tertunduk..
Aku harus berbuat apa?
Apakah Tuhan akan marah bila aku mencintaimu lebih dari Dia? Karena aku melihat Tuhan dalam dirimu..
Aq mencintaimu...
Mengenai Saya
- gEephEe
- gw biasa-biasa j.ga da yg spesial dlm diri gw tp saat ini gw lg seneng nulis.gw pgn bqn novel