FORBIDDEN LOVE TRIANGLE 3  

Diposting oleh gEephEe

Ghea berjalan menuju kantin yang berada di halaman depan sekolah. Di tengah jalan, dia melihat Anggie sedang berduaan dengan cowok yang dia lihat kemarin bersama Rinze. Ghea berhenti sebentar untuk mengamati Anggie. Dia penasaran siapa nama cowok barunya Anggie.

“ Kali ini siapa lagi cowok barunya? “ Ujarnya.

Ghea bertanya sama seorang cowok yang sedang melintas di depannya, dia pun langsung memanggil cowok itu dan segera menuju kearahnya.

“ Gw mau nanya, cowok yang sedang berduaan sama Anggie siapa namanya? “ Tanya Ghea langsung to the point sama cowok itu.

“ Itu namanya David, teman mantannya Anggie juga tapi enggak nyangka juga mereka bakal terang-terangan kayak gini setelah kepergok selingkuh sama Rendi. Kasihan juga si Rendi. “ Kata cowok itu menjelaskan.

“ Owh…thanks ya. “

Cowok itu langsung pergi meninggalkan Ghea yang masih memperhatikan Anggie dan David. Setelah itu dia melanjutkan perjalanannya ke kantin.
“ Hai Ghe ! “

“ Tumben sendirian? Biasanya elo berduaan kayak anak kembar, kemana-kemana selalu berdua. Mana kembaran elo? “ Tanya salah seorang temannya yang bernama Amel.

“ Rinze masih di kelas, lagi ngerjain PR. “ Jelas Ghea.

Ghea teringat waktu dia ketemu sama Anggie dengan cowok barunya, dia mencari informasi lagi sama Amel.

“ Mel, cowoknya Anggie sekarang baru lagi ya? Tadi gw liat dia lagi mojok sama cowok. Bukannya dia masih pacaran sama Rendi? “ Tanya Ghea sama Amel sambil minum fanta yang baru dibelinya.

“ Itu sich kemarin, sekarang dia pacaran sama David. Masa elo belum tau sich? Padahal beritanya udah menyebar kayak virus aja. Dalam sehari semua orang disini udah pada tau. Maklum Anggie kan seleb. “ Jawab Amel yang langsung menyerobot minuman yang sedang dipegang sama Ghea.

“ Trus Rendi gimana? “

“ Dia langsung putus sama Anggie 2 hari yang lalu. Kasihan juga tuch Rendi. Lagian salah juga sich dia, mau aja pacaran sama orang playgirl kayak gitu. “ Amel menyedot habis minuman punya Ghea, yang punya minuman hanya geleng-geleng kepala.

“ Owh..eh Mel, gw duluan ya dan makasih atas gosipnya. Elo mank ratunya gossip disekolah kita hehehehe “ canda Ghea dan meninggalkan Amel yang masih ingin di kantin.

“ Yoi ! “

Sebelumnya dia pergi ke toilet dulu karena ada panggilan alam yang menantinya. Setelah selesai, dia berjalan menuju ke perpus. Sesampainya di perpus, dia pergi ke rak buku yang berada paling pojok dan mengambil buku yang dicarinya, dia pun membaca buku itu.

BRUKKK !!!

Ghea mendengar sebuah buku jatuh dari raknya. Dia mencari ke arah buku itu jatuh. Setelah menemukan sumber suara buku yang jatuh, dia melihat seorang cewek sedang membereskan buku-buku yang jatuh dan segera membantunya karena memang lumayan banyak buku yang jatuh itu. Setelah selesai membereskan, Ghea hendak beranjak dari tempat itu ketika cewek itu memanggilnya.

“ Hei tunggu dulu ! “ Panggil cewek itu.

Ghea berbalik karena memang suara itu tertuju kearah dirinya, melihat kondisi perpus yang sepi berarti suara itu mengarah ke dirinya.

“ Ada apa ? “ Setelah berbalik ternyata yang memanggilnya adalah Anggie. Dia tidak tahu kalau orang yang ditolongnya itu adalah Anggie karena tidak terlalu memperhatikan.

“ Makasih ya udah nolongin. Pasti kalo enggak ada elo, mungkin gw masih beresin tuch buku. “ Kata Anggie.

“ It’s ok. Oh iya elo Anggie ya? Gw Ghea anak IPA. Elo pain disini sendirian? “

“ Ini udah emang hobi gw kali ke perpus, soalnya gw suka banget baca-baca buku selain itu memang sangat baik untuk nambah pengetahuan. “ Ujar Anggie.

Akhirnya mereka mengobrol panjang mulai dari soal buku, hobi masing-masing sampai soal pacar mereka obrolin. Mereka sampai lupa bahwa waktu istirahat telah habis dan nekat bolos sampai pelajaran terakhir.

Di kelas, Rinze mencari-cari Ghea. Dia sampai berbohong waktu guru menanyakan keberadaan Ghea, teman sebangkunya.

“ Ghea lagi di UKS, Bu ! Soalnya tamu bulanannya lagi datang. Ibu kan tau sendiri gimana rasanya jika tamu bulanan datang. “ Bohong Rinze kepada gurunya. Teman-temannya pun hanya tersenyum mendengar penjelasan dari Rinze.

“ Owh..ya udah kalau gitu sekarang coba kalian kerjakan soal yang ibu tulis di depan. “ Perintah guru akhirnya.

Rinze tidak bisa berkonsentrasi dengan pelajaran yang sedang diikutinya. Dia penasaran dimana Ghea berada sampai-sampai tidak masuk kelas.

“ Nich anak kemana sich? Kalo mau cabut bilang-bilang apa ! gw kan jadi bingung mau kasih alasan apa sama guru. “ Gerutu Rinze dalam hati.

Satu jam pelajaran telah selesai dan akhirnya bel pulang sekolah tiba. Rinze memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dan merapikan buku Ghea ke dalam tasnya Ghea.

“ Oke anak-anak, jangan lupa belajar di rumah ! “ Kata ibu guru memberi nasehat.

“ Baik bu guruuuu. “ Sahut murid-murid.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu Rinze menampakkan batang hidungnya juga di kelas. Rinze pun langsung mengomel-ngomel pada Ghea yang baru datang.

“ Elo kemana aja sich? Sampai cabut kelas segala, gw kan bingung mau kasih alasan apa waktu guru nanyain elo ada dimana. Gw bilang aja elo lagi dapet terus istirahat di UKS. “ Omel Rinze pada Ghea.

“ Sorry deh soalnya tadi gw ada keperluan mendadak. “ Kata Ghea sambil cengengesan.

“ Mangnya ada apaan sich? “

“ Ada aja. Pokoknya ntar liat aja diparkiran, alasan kenapa tadi gw enggak masuk kelas. “

“Ah..sok lu ! udah yuk balik. “

Sesampainya di parkiran, Rinze seperti melihat orang yang selama ini selalu menjadi mimpinya. Benar itu adalah Anggie. Ternyata tadi Ghea mengajak Anggie untuk pulang bareng bersama mereka. Tadinya Ghea ragu dengan niatnya untuk mengajak pulang bareng tetapi diluar dugaan, Anggie mengiyakan ajakan Ghea. Sebenarnya ini strategi Ghea untuk mendekatkan Rinze sama Anggie.

“ Itu dia pesenan elo. “ Ucap Ghea.

Rinze saking kagetnya sampai tidak bisa berkata apa-apa. Semua perasaannya menjadi satu antara senang dan kaget. Dia tidak menyangka akan mendapat surprise seperti ini.

“ Elo lagi enggak sedang bercanda kan, Ghe? “ Rinze masih tidak percaya dengan penglihatannya sendiri, dia sampai mencubit pipinya Ghea untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi belaka untuknya.

“ Auwwww !!! Sakit tau ! “ Jerit Ghea sampai membuat orang-orang menoleh kepada mereka termasuk Anggie yang sedang menunggu Ghea.

“ Sorry..sorry, gw kirain ini mimpi makanya gw mau mastiin. “

“ Mastiin sich mastiin tapi jangan pipi gw yang jadi korbannya ! “ Omel Ghea sama Rinze.

“ Sorry deh. “ Ucapnya sambil mengelus pipi Ghea.

Setelah pipinya dipegang sama Rinze, rasa sakit yang ada dipipinya hilang sudah tidak tahu kemana. Dia merasakan jantungnya berdetak tak karuan setelah pipinya dipegang sama Rinze dan memegangnya pipinya lagi untuk merasakan sentuhan dari Rinze. Ghea merasakan pipinya menjadi hangat setelah disentuh oleh Rinze.

“ Hei jadi pulang bareng? “ Anggie bertanya sama Ghea setelah sebelumnya melemparkan senyum kepada Rinze, yang diberi senyum menjadi salah tingkah sendiri.

Ghea baru mau menjawab Anggie ketika tiba-tiba handphonenya bordering keras.

“ Sorry, gw angkat telepon dulu. “ Pamitnya sebelum meninggalkan Anggie dan Rinze berduaan yang kini menjadi kikuk. Tidak lama kemudian, Ghea kembali dari menelepon.

“ Sorry banget, Nggie. Gw enggak bisa pulang bareng sama elo soalnya gw baru inget ada keperluan mendadak tapi elo bisa kok pulang bareng sama Rinze ! “ Usul Ghea.

Rinze yang mendengar usulan tiba-tiba dari Ghea menjadi bengong sendiri. Sekali lagi Rinze dibuatnya kaget.

“ Gimana ya tapi enggak apa-apa nich ? “ Tanya Anggie ragu.

“ Enggak apa-apa kok, teman gw ini orangnya baik kok. Enggak nyampe gigit. Udah disuntik rabies hehehehe. “ Jawab Ghea bercanda.

“ Gimana Rin ? “ Ghea bertanya sama Rinze yang sejak tadi bengong mendengar percakapan mereka.

“ Bisa kok. “ Jawab Rinze dengan menganggukkan kepala dengan cepat. Dia tak ingin melewatkan kesempatan yang baik ini.

“ Kalo gitu gw balik duluan ya, Bye ! “ Ucap Ghea.

“ Bye. “ Jawab Rinze dan Anggie bersamaan.

Sepeninggal Ghea, mereka menjadi berdiam diri selama beberapa detik. Sangat jelas sekali kecanggungan diantara mereka.

“ Yuk ! “ Ajak Rinze yang sebelumnya menenangkan hatinya. Dia tidak ingin membuat Anggie mengira yang aneh-aneh tentangnya.

Anggie pun mengikuti Rinze ke parkiran dan langsung naik ke mobil Rinze dan mobil itu akhirnya meninggalkan halaman sekolah. Rinze dan Anggie tidak tahu bahwa Ghea berbohong soal keperluan mendadaknya dan dia bersembunyi di balik pohon sampai mereka pergi. Setelah aman, Ghea baru keluar dan mengamati mobil Rinze dari kejauhan. Ghea sebenarnya tidak ingin meninggalkan mereka pulang bareng berduaan tetapi dia harus belajar untuk merelakan Rinze bersama Anggie karena dia tahu Rinze sangat mencintai Anggie.

♣♣♣

Selama diperjalanan, mereka saling diam, yang terdengar hanya suara musik yang dipasang oleh Rinze untuk mengisi kekosongan diantara mereka berdua hingga akhirnya perut Rinze berbunyi menandakan bahwa dia belum makan sejak disekolah. Anggie yang mendengarnya sampai tersenyum geli karena perut Rinze keroncongan.

“ Dah makan belum? Makan dulu yuk ! gw laper nich. “ Kata Rinze akhirnya. Sumpah dia malu banget sama Anggie.

“ Ayo ! sama gw juga belum makan tadi disekolah. “ Jawab Anggie yang masih menahan tawa.

Rinze langsung membelokkan mobilnya kearah PIM dan dalam 20 menit kemudian mereka telah sampai di PIM. Rinze mengambil karcis yang keluar dari mesin yang mengeluarkan karcis tanda parkir dan memarkirkan mobilnya ditempat yang teduh. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka masuk kedalam Mall.

“ Mau makan dimana? “ Tanya Rinze setelah mereka berkeliling sebentar untuk mencari tempat makan yang enak.

“ Terserah elo aja deh. Gw ngikut aja. “

“ Gimana kalau kita makan di Platinum? Katanya enak lho disana. “ Usul Rinze.

Anggie cuma mengangguk mendengar usulan dari Rinze dan mereka langsung pergi ketempat yang dituju. Setelah menemukan tempatnya, mereka masuk dan mencari tempat duduk yang nyaman dan tidak lama kemudian pelayan menghampiri mereka dan memberikan menu makanan yang ada ditempat itu. Pelayan itu dengan sabar menunggu saat mereka sedang memilih-milih makanan dan segera mencatat pesanan yang diucapkan oleh Rinze dan Anggie. Sebelum pergi membawa catatan pesanan mereka, pelayan itu mengulang lagi apa-apa saja yang dipesan agar nantinya tidak salah dan pelayan itupun berlalu dari hadapan mereka. Setelah pelayan itu pergi, mereka kembali diam. Rinze jengah dengan keadaan yang ada dan mencari topik untuk dibicarakan.

“ Gimana hubungan elo sama pacar elo? “ Tanya Rinze memulai percakapan.

“ Yang mana? “ Anggie belum tahu bahwa Rinze telah melihat dia beberapa hari yang lalu dengan David.

“ Waktu itu gw liat elo didaerah Jakarta Barat sama cowok elo tapi kayaknya itu cowok baru elo ya? “

“ Oh maksud elo David ! Gw sama dia baik-baik aja kok. Elo lagi ngapain disana? “ Tanya Anggie yang heran karena ternyata ada teman satu sekolahannya yang melihat dia sedang bermesraan dengan David.

Pembicaraan mereka tertunda karena pelayan akhirnya datang dengan membawa pesanan mereka dalam nampan. Rupanya apa yang mereka pesan lumayan banyak. Itu terlihat dari nampan yang dibawa oleh pelayan itu hampir penuh dengan pesanan mereka.

“ Gw lagi jalan-jalan aja sama Ghea kesana. Biasa hunting makanan yang enak-enak. “ Jawab Rinze sambil makan.

Anggie cuma ber-oh ria mendengar jawaban dari Rinze. Anggie juga langsung makan dan memperhatikan Rinze yang sedang makan dengan lahapnya, dia pun kembali tersenyum melihatnya.

“ Laper ya mbak? “ Goda Anggie.

“ He..he..he..iya laper banget soalnya tadi waktu istirahat, gw belum makan. “

“ Kenapa? “ Tanyanya lagi.

“ Ngerjain PR. “ Jawab Rinze yang sudah selesai makannya dan langsung minum karena tenggorokannya terasa seret.

“ Elo sama Ghea udah temanan lama ya? Gw perhatiin, elo tuh berdua selalu bersama-sama, udah kayak anak kembar aja. “

“ Enggak salah nich? Jadi selama ini dia juga merhatiin gw. “ Katanya dalam hati. Rinze menjadi ge-er sendiri.

“ Ghea tuch udah kayak soulmate gw aja. Mungkin kalau enggak ada dia, gw enggak bisa apa-apa dan mungkin juga kalau gw punya pacar, gw enggak bisa jauh dari dia. “ Jelas Rinze.

“ Enak ya kalau punya sahabat yang seperti elo berdua. “ Ucap Anggie. Rinze yang mendengarnya menjadi semangat dan merasa bahwa ini adalah kesempatannya untuk berdekatan dengan pujaan hatinya.

“ Gw juga mau kok jadi sahabat elo. “ Kata Rinze dengan bersungguh-sungguh.

“ Yang bener elo mau jadi sahabat gw? “ Tanya Anggie tidak percaya dengan ucapan Rinze bahwa dia mau menjadi sahabatnya.

Rinze mengangguk dengan pasti.

“ Oke kalau gitu. Makasih ya udah mau jadi teman gw. Gw senang banget. “ Anggie tersenyum senang karena mempunyai teman baru.

Setelah itu suasana menjadi berubah. Tak ada lagi atmosfir kecanggungan di antara mereka. Mereka mulai mengobrol apa saja dan Rinze tak henti-hentinya tersenyum. Dia merasa sangat senang karena bisa berdekatan dengan anggie seperti ini dan mereka telah selesai makan. Tadinya Anggie yang mau bayar semua apa yang telah mereka pesan tetapi dicegah oleh Rinze.

“ Gw yang traktir ! Sekarang elo kan udah jadi teman gw jadi ini untuk merayakannya. “ Kata Rinze akhirnya. Diapun meminta bill-nya kepada pelayan. Setelah selesai membayar, mereka pun keluar dari tempat itu.

“ Makasih ya udah bayarin. “

“ Hush ! Pamali ngomong kayak gitu sama teman. Abis ini mau kemana nich? Mau pulang atau muter-muter dulu disini? “

Anggie berpikir sejenak.

“ Kalau udah ada disini, ngapain pulang cepat-cepat? “ Usul Anggie seraya mengedipkan matanya. Rinze melihat ada kenakalan dimatanya dan dia menduga akan ada hal gila yang akan dilakukan mereka berdua.

Hilang sudah kekakuan diantara mereka berdua dan kini berganti dengan keakraban. Rinze senang bukan main karena bisa jalan berdua dengan Anggie, dia sampai saat ini masih belum percaya dengan apa yang dilakukannya bersama dengan Anggie seharian ini. Mulai dari tempat bermain, foto box bareng-bareng, hunting buku seperti novel dan komik mereka lakukan bersama dan waktu tak terasa telah berlalu dengan cepat. Matahari telah terbenam menyisakan sinar kemerahan memancar menggantikan teriknya cahaya matahari. Rinze mengantarkan Anggie sampai didepan rumahnya. Anggie menawarkan Rinze untuk mampir kedalam rumahnya tapi ditolak dengan halus oleh Rinze.

“ Thanks banget ya hari ini, gw memang lagi butuh refreshing. Mampir dulu yuk ! “ Ajak Anggie.

“ Makasih deh. Kapan-kapan aja. “

“ Oh iya kalau perlu bantuan atau teman curhat, jangan sungkan untuk hubungi gw. Pasti gw akan bantu semampu gw. “ Kata Rinze sambil tersenyum.

“ Iya gw pasti akan hubungi elo. “ Jawab Anggie.

“ Ya udah gw cabut dulu ya. “ Pamit Rinze.
Anggie memerhatikan Rinze dari kejauhan. Dia amat senang hari ini. Sudah lama dia tidak merasakan indahnya pertemanan karena semua teman-temannya kini menjauhinya. Mereka beranggapan bahwa Anggie adalah musuh dalam selimut dan sekarang dia mendapatkan seorang teman baru, yang benar-benar bisa dianggapnya teman. Itu yang didapatnya dari Rinze. Melihat mobil Rinze hilang ditengah kegelapan, baru Anggie masuk kerumahnya.

♣♣♣
Selama diperjalanan menuju kerumahnya, Rinze bernyanyi mengikuti lagu dari ADA BAND dengan semangat ’45-nya dan hatinya berbunga-bunga seperti lirik di lagu itu. Dia menyetel lagu itu dengan keras-keras.

Inikah surga cinta
Yang banyak orang pertanyakan
Atau hanya impian
Yang tiada pernah berakhir jua

Begitulah perasaan yang sekarang ada dihati Rinze. Dia tidak henti-hentinya tersenyum karena masih terbayang oleh kejadian yang dilakukannya bersama Anggie tadi siang. Sampai dirumah, dia langsung mandi dan langsung masuk ke kamarnya setelah selesai mandi. Saat mengenakan pakaian, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.

“ Siapa ? “ Tanya Rinze setengah berteriak. Dia malas untuk membuka pintu kamarnya.

“ Ini bibi, non. “ Ternyata yang mengetuk-ngetuk pintu kamarnya adalah pembantunya, Bi Inah.

Memang Rinze selalu melarang siapa saja untuk masuk ke kamarnya tanpa seizinnya terdahulu termasuk oleh ibunya sendiri. Dia tidak ingin privasinya diganggu oleh siapapun.

“ Masuk aja bik, pintunya enggak dikunci. “

“ Tadi ada telepon dari non Ghea. Dia nelepon berkali-kali lho non, trus dia titip pesan, katanya non disuruh nelpon dia. “

“ Oh.. ya udah makasih ya bik. “ Ucap Rinze.

Lalu bibi keluar dari kamar Rinze dan menuju ke dapur lagi, menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai. Rinze beranjak dari tempat tidur dan mengambil Handphonenya yang tidak jauh dari tempat tidurnya. Dia mencari nomor Ghea dalam phonebooknya dan segera melakukan panggilan dan tidak lama kemudian terdengar bunyi nada sambung.

“ Lama banget sich kasih kabarnya ! Handphone elo kenapa pake enggak diaktifin segala sich? Bikin orang penasaran aja ! “ Ghea langsung mengomel-ngomel menerima telepon dari Rinze dan tidak memberi kesempatan kepada Rinze untuk berbicara terlebih dahulu.

“ Waduh..waduh..waduh..tunggu dulu donk, beri gw kesempatan untuk ngomong. Gw jelasin satu-persatu dulu. Sorry untuk handphone yang enggak aktif karena elo kan tau sendiri gimana rasanya orang yang sedang jatuh cinta, enggak mau diganggu. “ Ledek Rinze.

“ Tapi bukan begitu caranya sama orang yang udah nolongin elo. Kalau tau gitu mendingan tadi gw enggak usah bantuin elo deh. Kacang lupa sam kulitnya. “ Kata Ghea merajuk.

“ Yeee ngambek..Cinta kamu jangan ngambek donk kalau kamu marah nanti siapa yang akan tolongin aku selalin kamu karena aku enggak bisa hidup tanpa kamu. “ Goda Rinze.

“ Huuu..gombal ! “ Cibir Ghea.

“ Ha..ha..ha..ha tapi sumpah deh gw tuch enggak bisa hidup tanpa elo. Elo tuch udah kayak nyokap gw aja yang selalu bantu gw disaat susah. Udah langka orang kayak elo, Ghe. Soalnya unik sich. “

“ Emangnya gw barang antik apa sampai dibilang langka dan unik ? “ Walaupun kesal dibilang langka tetapi dia tidak bisa bohong kalau dia suka dengan apa yang diucapkan oleh Rinze.

“ Udah jangan bercanda melulu. Udah makan belum elo ? “ Tanya Ghea.

“ Udah tadi sama Anggie di PIM. Makasih ya elo udah bantuin gw. Sumpah, sampai sekarang gw masih belum percaya sama kejadian tadi sore kalau tadi gw jalan Cuma berduaan sama Anggie. Senang banget gw ! “

“ Emangnya elo ngapain aja sama dia ? “ Tidak tahu kenapa Ghea menjadi penasaran dan ingin mendengarnya walaupun dia tahu, kalau dia akan tambah sakit bila mendengarnya.

“ Tadi gw disana Foto box, berduaan lho ! Itu foto bakal gw simpen baik-baik trus makan es krim. Oh iya gw baru tahu kalau dia suka baca novel makanya kita berdua cari-cari buku di Gramed. Pokoknya seru banget deh. “ Cerita Rinze dengan semangatnya.

Rinze tidak tahu bahwa Ghea telah menangis karena mendengar ceritanya. Rinze tidak menyadari bahwa Ghea sangat mencintainya seperti dia mencintai Anggie bahkan Ghea telah merelakan Rinze untuk dekat dengan orang lain dan membiarkan hatinya terluka. Ghea akan melakukan apapun untuk bisa melihat Rinze bahagia walaupun harus mengorbankan dirinya terluka karena dia tidak ingin melihat Rinze terluka dan sedih.

“ Wah asyik tuch !! Pasti elo senang banget ya udah bisa dekat sama dia. Selamat deh ! “ Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Ghea sambil menghapus air matanya yang sampai sekarang masih berlinang menghiasi pipinya.

“ Iya, gw senang banggggggeeeettttt. Akhirnya gw bisa dekat sama dia, mudah-mudahan aja nanti gw bisa ngungkapin perasaan gw ke dia. “

“ Amin. “ Ucap Ghea dengan tulus.

“ Hei, mendingan elo tidur gih, udah malem. Elo juga pasti capek kan abis jalan sama pujaan hati.” Ledek Ghea.

“ Iya nich capek banget. Elo juga tidur ya, jangan bergadang lho. Aku kan enggak mau liat kamu atit chayang he..he..he..he..good night. “ Goda Rinze sebelum telepon terputus. Dia memang paling senang kalau sudah menggoda sahabatnya.

Ghea langsung meletakkan handphonenya kembali diatas meja dan dia langsung merebahkan diri di kasur. Sekali lagi dia menangis, ingin rasanya mengakhiri hidupnya sendiri tetapi niat itu selalu dibuangnya bila melihat foto yang bertengger manis diatas meja.

Difoto itu ada Ghea dan Rinze yang sedang tersenyum dengan polosnya. Foto mereka berdua saat sedang disekolah. Disitu terlihat Rinze sedang memeluk Ghea dari belakang sambil mencolek pipi Ghea dengan es krim. Ghea mengambil foto itu dan mengelus wajah Rinze yang sedang tersenyum lebar dengan jari lentiknya. Dia bangkit dari tempat tidur dan menuju ke lemarinya. Setelah terbuka, dia mengambil sweater pemberian dari Rinze waktu dia sedang menggigil kedinginan dan awal dari perkenalan mereka. Sweater itu sampai sekarang disimpan baik olehnya karena itu yang bisa membuatnya bahagia dan sebagai pengganti Rinze disisinya. Malampun semakin larut, Ghea tertidur sambil memeluk sweater dan foto dirinya bersama Rinze.

♣♣♣
“ Bi, semalem mama pulang jam berapa? “ Tanya Rinze pada pembantunya saat sarapan pagi.

Rinze mengambil roti dan mengoleskan selai nanas kesukaannya diatas rotinya. Dia paling suka makan roti dulu sebelum memakan yang lainnya.

“ Nyonya semalem enggak pulang non tapi Cuma nelepon, katanya non jangan bandel dan jaga diri, gitu katanya non. “ Jelas Bibi yang langsung pergi ke dapur lagi.

“ Jangan bandel..Huh !! Memangnya siapa yang bandel ? “ Dengus Rinze langsung melahap habis rotinya.

Terdengar suara telepon bordering dan tidak lama kemudian Bibi muncul sambil membawa telepon dalam genggamannya. Bi Inah langsung menyerahkan teleponnya dan memberitahu bahwa yang menelepon adalah mamanya sendiri.

“ Makasih, Bi ! Ada apa, Ma ? Tumben mama telepon pagi-pagi ? “ Tanya Rinze dengan ketus.

“ Kok ngomongnya ketus banget sich sama mama? Memangnya kamu enggak kangen sama mama? “ Terdengar suara wanita yang lembut dari telepon seberang.

“ Memangnya mama perduli dengan perasaan Rinze, enggak kan ? Mama enggak akan perduli Rinze kangen atau enggak sama mama ! Mama Cuma perduli sama kerjaan mama doank !! “ Sengit Rinze.

Dadanya mulai sesak dan bergemuruh bila mendengar suara mamanya. Dia tidak bisa berbohong bahwa dia sangat rindu dengan mamanya sekaligus membencinya. Dua perasaan yang tidak bisa lepas sampai sekarang.

“ Kamu jangan ngomong begitu sama mama. Mama kerja buat kamu sayang, buat keluarga kita. “ Suara mamanya mulai terdengar serak karena menahan air matanya.

“ Bullshit dengan semua omongan mama !! “ Rinze langsung menutup teleponnya. Di dapur, Bi Inah hanya bisa melihat Rinze yang sedang menahan amarahnya. Dia iba setiap kali Rinze seperti itu karena dia mengenal Rinze dari kecil.

Rinze tidak melanjutkan sarapannya karena sudah tidak mood lagi. Dia langsung mengambil tas dan kunci mobilnya didalam kamar. Saat itu juga dia langsung berangkat ke sekolah. Didalam mobil, Rinze menyetir sambil menangis. Masih terngiang suara mamanya yang serak. Rinze tahu bahwa mamanya menangis karena perbuatannya. Rinze menumpahkan semua perasaan yang selama ini dipendamnya dan melampiaskannya kepada mamanya. Dia sebenarnya tidak ingin menyalahkan mamanya. Dia sendiri juga tahu bahwa mamanya telah bekerja keras untuk menghidupi semua kebutuhannya, sekolah dan keluarganya tapi kenapa mamanya selalu tidak ada waktu untuk Rinze walau hanya sebentar, pikirannya sedang berkecamuk.

“ Damn it !!! “ Umpat Rinze seraya memukul kemudi mobilnya.

Sekolah saat ini masih sepi dan hanya beberapa murid saja yang sudah nampak di sekolah. Rinze menuju kelasnya dan menaruh sembarangan tasnya dibangkunya. Dia sendiri langsung pergi ke toilet untuk membasuh mukanya yang habis menangis didalam mobil, dia tidak ingin mukanya yang kusut terlihat oleh Ghea karena tidak ingin Ghea menjadi ikut repot dan sedih. Pukul 06.45 WIB sekolah sudah mulai ramai oleh murid-murid. Di dalam kelas Rinze menanti kedatangan sahabatnya. Rinze melihat jam tangannya.

“ Kok Ghea belum datang juga sich? Udah waktunya mau masuk. “ Ucapnya dalam hati.Ghea sendiri datang ke sekolah pukul 07.30 WIB. Dia kesiangan karena semalam tidur jam 2 pagi. Rinze yang melihatnya heran, kenapa Ghea bisa terlambat karena Ghea selama ini tidak pernah terlambat ke sekolah.

“ Sst..kenapa terlambat? “ Tanyanya setelah Ghea dipersilakan masuk oleh gurunya.

“ Kesiangan. “ Jawabnya.

“ Memangnya elo tidur jam berapa? “

“ Jam 2, eh gw tidur bentar ya kalau guru kesini, tolong bangunin gw. “ Ghea langsung merebahkan kepalanya diatas meja.

Rinze mengangguk. Untung mereka duduk dibarisan belakang jadi bisa tertolong oleh badan teman mereka yang gemuk duduk didepan mereka dan menjadi tameng untuk Ghea yang ingin tidur dan tidak kelihatan oleh guru yang sedang mengajar. Selama jam pelajaran berlangsung, Ghea tertidur pulas dan itu berlangsung sampai istirahat.

“ Gimana udah mendingan? “ Tanya Rinze yang melihat Ghea sudah bangun. Dia penasaran kenapa Ghea sampai bisa terlambat datang kesekolah.

“ Udah puas gw tidurnya. “ Jawab Ghea.

Rinze melihat ada yang aneh dengan muka Ghea, wajahnya pucat ! Dia langsung menempelkan keningnya di kening Ghea untuk memastikan apakah Ghea sakit atau tidak. Ternyata dugaannya benar, kening Ghea panas.

“ Ghe, badan elo panas banget ! Gw minta izinin pulang ya? “ Usul Rinze.

“ Enggak usah. Nanti adem sendiri. “ Kilahnya berbohong.

“ Dulu waktu ketemu, elo juga ngomongnya kayak gitu. “

Ghea hanya tersenyum mendengarnya karena Rinze ternyata masih ingat dengan pertemuan mereka pertama kali.

“ Udah sarapan belum? Gw beliin ya, elo tunggu disini aja. “

Tetapi Ghea langsung menahannya sebelum Rinze pergi ke kantin.

“ Gw sendiri aja yang beli, gw masih kuat jalan. “ Tolak Ghea yang tidak ingin Rinze repot.

“ Tapi Ghe..”

Ghea langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kantin. Belum jauh berjalan, Ghea sudah pingsan didepan kelas.

“ Ghea !!! “ Teriak Rinze melihat sahabatnya pingsan.

Rinze langsung membawa Ghea pulang ke rumahnya setelah meminta izin dari guru piket.

Rumah Ghea sepi tidak ada orang tuanya. Ternyata mamanya sedang pergi ke sukabumi sedangkan papanya pergi kekantor. Dirumah Ghea tidak ada pembantu jadi yang mengerjakan pekerjaan rumah adalah Ghea atau mamanya sendiri. Rinze mengompres kening Ghea dengan handuk yang sudah direndam dengan air dingin dan mencucinya tiap 5 menit sekali. Dia berjalan keluar rumah untuk membeli bubur nasi untuk Ghea karena dia ingat Ghea belum sarapan tadi pagi. Sekembali dari beli bubur, Ghea sudah siuman.

“ Elo makan dulu ya, gw udah beli bubur nich. “ Kata Rinze sambil menuangkan bubur kedalam mangkok.

“ Ayo makan, gw suapin. “

Ghea memakan bubur dengan pelan-pelan, dia masih merasakan kepalanya pusing dan nyut-nyutan. Rinze mengamati kamar Ghea sangat berantakan dan matanya melihat foto dan sweaternya diatas tempat tidur.

“ Semalem kenapa, kok tidur jam 2 pagi? Elo nyuruh orang buat cepat tidur tapi elo sendiri enggak tidur. “ Rinze tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya sama Ghea.

“ Enggak ada apa-apa kok. “ Jawab Ghea.

“ Elo kalau ada masalah cerita donk ke gw, mungkin gw bisa bantu elo. “

Ghea langsung menatap wajah Rinze lekat-lekat. Rinze sendiri tidak tahu apa arti dalam tatapan Ghea untuknya dan langsung berpaling untuk mengalihkan dari tatapan Ghea.

“ Elo mau jadi pacar gw? “ Tanya Ghea dengan tiba-tiba.

“ Hah, apa Ghe? “ Tanya Rinze mengerutkan kening. Dia tidak mendengar ucapan Ghea barusan karena sedang sibuk membereskan kamar Ghea yang berantakan. Ghea tahu bahwa dia keceplosan berbicara karena itu dia mengganti pembicaraan.

“ Maksud gw, kenapa bantu gw? Bukannya elo ada latihan basket sama teman-teman elo? “

Sumpah, Rinze lupa sama sekali kalau dia hari ini ada latihan basket dengan teman-temannya. Dia belum pernah bolos dengan latihannya sendiri tapi ketika melihat Ghea jatuh pingsan, dia langsung melupakan segalanya, sekolahnya bahkan latihannya dan segera menolong Ghea.

“ Elo ngomong apa sich Ghe? Elo kan sahabat terbaik gw, pasti gw bakal nolongin elo. “

“ Awas ya kalau elo ngomong kayak gitu lagi ! Gw enggak suka dengarnya, janji? “ Rinze menyentil pelan kepala Ghea dan mengacungkan jari kelingkingnya.

Ghea tersenyum sendiri melihat tingkah sahabat dan orang yang sangat dicintainya itu dan mengacungkan jari kelingkingnya. Mereka mengaitkan jari bersama-sama, setelah itu mereka tertawa dan saling berpelukan.

“ Maafin gw ya selalu ngerepotin elo bahkan sekarang gw sibuk sendiri mikirin tentang Anggie.” Ucap Rinze masih berpelukan.

Ghea hanya mengangguk.

“ Hm..gimana kalau malam ini, gw nginap disini. BT gw dirumah sendirian lagipula nyokap elo lagi pergi ke sukabumi kan? Hitung-hitung gantian gw nginap disini. “ Ujar Rinze.

“ Mendingan elo sekarang istirahat, gw enggak mau liat elo sakit lagi. “ Rinze membantu Ghea berbaring.

Sehabis membantu Ghea, Rinze pergi ke dapur untuk membuat teh manis hangat dan kembali lagi kekamar Ghea.

“ Mendingan elo cerita ke gw, elo ada masalah apa ? “ Tanya Rinze lalu memberikan teh manisnya ke Ghea.

Yang ditanya kaget, entah mau bilang atau tidak sama sekali pada temannya itu.

“ Kok elo bisa tau? “ Tanya Ghea.

“ Ghea sayang, gw ini kenal elo udah lama bukan baru kemarin-kemarin gw kenal elo. “
Mau tidak mau, Ghea harus cerita semuanya pada Rinze.

“ Gw lagi suka sama seseorang ! “

Rinze yang lagi minum sampai tersedak dibuatnya. Dia tidak menyangka bahwa temannya sedang menyukai seseorang. Ternyata benar feelling dia selama ini, kenapa selama ini Ghea bersikap aneh.

“ Are you sure? Kenapa enggak cerita sama gw? So, siapa orang yang beruntung itu? Pasti tuch cowok beruntung banget bisa dapetin cewek secakep dan sebaik elo. “ Rinze menduga-duga siapa cowok yang sedang disukai Ghea.

Memang mulai dari kelas 1, Ghea sudah mempunyai banyak penggemar bahkan ada dari sekolah lain yang menyukai Ghea. Pada saat hari Val’s day banyak yang mengajaknya pergi, entah itu pergi untuk makan, jalan-jalan atau nonton film di bioskop tapi tidak tahu kenapa semuanya ditolak oleh Ghea dan sampai akhirnya hari Val’s day dirayakan oleh mereka berdua dirumah Rinze.

Sekali lagi Ghea hanya bisa diam dan menatap Rinze yang sedang sibuk dengan pikirannya. Dia tidak bisa bilang bahwa orang yang disukainya itu bukan cowok melainkan cewek yang ada dihadapannya sekarang yang dia sukai.

“ Dia enggak beruntung karena gw bertepuk sebelah tangan. Dia udah punya orang yang disukai. “

Rinze kaget mendengarnya karena nada bicara Ghea sangat sedih. Selama ini Ghea menyimpannya sendirian perasaan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Rinze menyesali dirinya sendiri karena tidak ada untuk Ghea disaat sedih malahan dia hanya memikirkan diri sendiri.

“ Apa elo udah bilang sama dia kalau elo suka sama dia? Siapa tau dia bakal nerima elo? “ Tanya Rinze.

“ Gw enggak bilang, gw tau kalau dia suka banget sama cewek itu, udah enggak ada kesempatan buat gw lagipula gw udah cukup senang kalau liat dia bahagia sama cewek itu. “ Ucap Ghea dengan tersenyum pahit.

“ Memangnya siapa sich nama cowok itu? Perlu dihajar tuch orang, masa nyia-nyiain cewek kayak elo. Kalau gw jadi dia, gw enggak akan nyia-nyiain elo bahkan gw akan mempertahankan elo sebagai cewek gw. Sekarang elo kasih tau namanya siapa? Nanti gw kasih tau ke dia bahwa ada cewek yang dengan tulus suka sama dia. “ Kata Rinze dengan penuh emosi. Tanpa sadar dia sudah mengepalkan tangannya saking gregetan.

“ Elo enggak perlu tau siapa orangnya, lagipula sekarang gw juga udah rela kok liat dia bahagia bersama orang lain. “ Jawab Ghea.

Rinze sedih melihat Ghea yang sedih seperti itu, dia ingin sekali menghajar cowok yang sudah menyakiti Ghea karena menurut Rinze, Ghea tidak layak mendapat perlakuan seperti ini dan tanpa terasa hari sudah semakin sore. Rinze lupa bahwa dia belum membawa baju ganti untuk menginap disini dan menemani sahabatnya yang sedang sakit.

“ Ya udah sekarang tenangin diri elo dan istirahat, gw mau balik ke rumah sebentar buat ambil baju dan kesini lagi secepatnya. Sekarang gw siapin air hangat buat elo mandi. “ Rinze baru saja mau ke kamar mandi sebelum tangannya dipegang sama Ghea.

“ Makasih ya elo udah bantuin gw. “ Ujar Ghea.

“ No problem. Gw sayang sama elo melebihi diri gw sendiri dan gw enggak mau liat elo sedih kayak gini. “ Balas Rinze membelai rambut Ghea dengan lembut dan setelah itu langsung ke dapur untuk memasak air hangat untuk Ghea.

Setelah Rinze pergi, Ghea hanya bisa terduduk dan termenung. Ghea tahu kalau Rinze hanya menyayanginya sebagai sahabat dan itu membuatnya menjadi sedih.

“ Ghe ! Air hangatnya udah siap nich, buruan sana mandi entar keburu dingin lagi. Elo bisa masuk angina kalau kayak gitu, apa perlu ge mandiin ha..ha..ha..ha “ Ucap Rinze usil.

“ Enggak mauuuu “ Jawab Ghea sambil meleletkan lidah.

“ Ha..ha..ha..segitunya. Yo weiz kalau enggak mau. Kalau gitu gw balik dulu ya, gw mau ambil baju entar gw kesini lagi. “ Rinze berlalu dari hadapan Ghea.

Dia langsung menghidupkan mobilnya dan mengendarainya lumayan cepat agar bisa cepat sampai di rumahnya. Dia tidak ingin meninggalkan Ghea sendirian dirumahnya karena memang dirumah Ghea tidak ada orang.Sesampainya dirumah, Rinze melihat sebuah mobil yang sangat dikenalnya bahkan dia sangat merindukan dengan orang yang menggunakan mobil ini. Sudah lama sekali Rinze tidak mengobrol panjang dan berbagi cerita. Sekalinya bertemu atau mengobrol selalu saja ada masalah. Ketika dia masuk ke dalam rumah, dia melihat seorang wanita yang tidak terlalu tua sedang duduk mengobrol dengan pembantunya.

“ Mama ! “ Ucap Rinze menahan perasaan rindu.

“ Hai sayang..kamu kok baru pulang ? Mama udah daritadi lho nunggu kamu. Mama kangen banget sama kamu. “ Wanita itu menghampiri Rinze dan memeluk anaknya dengan erat.

“ Aku abis dari rumah Ghea, dia lagi sakit. “ Jawabnya yang masih kaget dengan kehadiran mamanya.

Rinze tidak menyangka bahwa mamanya sudah pulang, pulang ke rumah mereka.

“ Memangnya dia sakit apa? Udah dibawa ke dokter? Mama udah dengar dari Bibi kalau Ghea sering menginap disini. Oh iya kamu udah makan malam belum? Kita makan bareng yuk, Mama udah masakin masakan kesukaan kamu tuch. “ Ajak mamanya.

Rinze mengikuti mamanya menuju ke ruang makan. Sudah lama sekali Rinze tidak makan malam bersama mamanya lagi, dia sudah tidak ingat kapan terakhir kalinya mereka makan malam bersama. Di meja makan terlihat sudah penuh dengan makanan kesukaannya, ternyata mamanya masih ingat dengan makanan kesukaannya.

“ Kok masih berdiri? Ayo makan, nanti maag kamu kambuh lagi lho kalau enggak cepat makan. “

“ Mama masih ingat dengan makanan kesukaan aku? “ Tanya Rinze yang masih berdiri di samping meja makan.

“ Kamu ngomong apa sich? Tentu saja mama masih ingat sayang. Kamu kira mama akan lupa, itu enggak mungkin sayang. Ya udah ayo duduk, nanti makanannya keburu dingin. “

mereka akhirnya makan bersama dan mengobrol apa saja karena mereka jarang bertemu. Mulanya suasana cukup baik dan menyenangkan karena Rinze sudah berdamai dengan dirinya sendiri untuk tidak ribut lagi dengan mamanya dan menikmati kebersamaan mereka sampai akhirnya handphone mamanya berdering. Rinze merasakan firasat buruk akan hal ini.

“ Ya halo, ada apa? Ya, saya segera kesana. “ Telepon pun terputus.

“ Kenapa? Urusan kantor lagi? “ Tanya Rinze dingin.

Mamanya diam, tidak merespon pertanyaan dari anaknya. Dia tahu bahwa anaknya akan marah lagi sama dia.

“ Ya udah tunggu apa lagi ! sana pergi !! “ Bentak Rinze yang sudah tidak bisa menahan lagi emosinya.

“ Rin, dengerin mama dulu…” Belum selesai Nia berbicara, ucapannya sudah terpotong.

“ kalau gitu buat apa mama pulang kalau Cuma sebentar dan Cuma untuk nyakitin Rinze!! Aku tuh kangen sama mama tapi mama enggak pernah ada waktu untuk Rinze walau sebentar! “

Nia terdiam mendengar ucapan dari Rinze.

“ Aku benci sama mama !!! “ Ucap Rinze sambil lari ke atas.

Sesampai di kamarnya, Rinze langsung mengambil baju dalam lemarinya dan memasukkannya kedalam tasnya. Dia melihat sebentar jadwal pelajarannya lalu mengambil beberapa buku untuk pelajarannya di sekolah besok. Setelah semuanya selesai, dia kembali turun dari kamarnya. Rinze melihat mamanya sudah berdiri di dekat tangga.

“ Kamu mau kemana malam-malam begini? “ Tanya Nia.

Rinze melihat mata mamanya sudah berlinangan airmata. Sebenarnya dia tidak ingin melihat mamanya menangis karena prbuatannya tetapi mengingat kejadian tadi, dia menjadi marah lagi sama mamanya.

“ Bukan urusan mama! Sudah sana cepetan pergi, katanya ada pekerjaan penting! “ Rinze pun langsung berjalan keluar rumah dan membanting pintunya dengan keras.

Di dalam mobil, Rinze tampak ngos-ngosan karena tidak bisa mengontrol emosinya yang telah ribut dengan mamanya. Dia pun mengatur napasnya terlebih dahulu dan mengusap air matanya yang telah keluar setelah itu barulah dia menghidupkan mobilnya dan menyetel musik keras-keras untuk meredakan emosinya.

“ Brengsek!! Buat apa dia pulang ke rumah kalau seperti ini jadinya?! “ Umpat Rinze.

Dalam perjalanan ke rumah Ghea, Rinze melewati sebuah toko buah-buahan. Dia pun langsung teringat dengan sahabatnya yang lagi sakit dan berhenti sebentar untuk mampir di toko tersebut. Rinze membeli beberapa buah-buahan seperti pear, anggur dan jeruk. Rinze mengambil buah anggur lebih banyak daripada yang lainnya karena Ghea sangat menyukai buah anggur tersebut. Setelah memilih dan membayar belanjaannya, dia melanjutkan perjalanannya kembali. Tidak lama kemudian Rinze sampai di rumah Ghea. Rinze melihat papanya Ghea sudah pulang dari kantor.

“ Malam Om. “ Sapanya seraya tersenyum.

“ Malam juga. Oh kamu Rin, Om kira siapa! Nyariin Ghea ya? Dia di kamarnya tuh lagi rebahan. “ Ujar papanya Ghea dengan ramah.

“ Iya Om. Kalau begitu saya ke kamarnya dulu. Permisi Om. “ Pamit Rinze dan meninggalkan papanya Ghea yang sedang menonton tv.

Di depan kamar Ghea, Rinze membenahi matanya terlebih dahulu yang sembab karena sehabis menangis. Dia tidak ingin membenani Ghea dengan masalahnya. Sudah cukup masalah yang dialami Ghea dengan menyukai orang yang menurutnya brengsek. Baru kali ini Rinze melihat sahabatnya begitu sedih karena menyukai seseorang. Berarti Ghea sangat menyukainya bahkan sanggup melepaskan cowok yang disukainya bersama dengan orang lain untuk kebahagiaan orang itu sendiri. Rinze membuka pintu pelan-pelan, dia tidak ingin Ghea terganggu dengan kehadirannya. Setelah masuk ke dalam Rinze melihat Ghea sedang tertidur lelap dengan selimut yang menyelimutinya separuh badannya. Rupanya Ghea tertidur dari pengaruh obat yang telah diminumnya, itu terlihat dari atas meja yang terdapat beberapa obat dan segelas air. Rinze menghampiri Ghea dan meletakkan buah-buahan yang telah dibelinya di atas meja lalu duduk disamping sahabatnya itu. Ditatapnya wajah Ghea dan memegang tangannya.

“ Maafin gw Ghe, gw bukan sahabat yang baik buat elo. “ Ucapnya lirih.

Karena merasakan tangannya di pegang, Ghea pun terbangun dan melihat Rinze duduk disampingnya dengan wajah yang begitu sedih.

“ Ada apa Rin? “

“ Enggak ada apa-apa. Oh iya tadi gw beli buah-buahan kesukaan elo tuh. Ada anggur lho. “ Jawab Rinze sambil memeperlihatkan buah-buahan yang dibelinya.

“ Ehm makasih ya..kok lama banget kesininya? “ Tanya Ghea.

“ Tadi nyokap pulang jadi nemenin dia dulu. “ Terang Rinze.

“ Elo enggak ribut sama nyokap elo kan? “ Tanya Ghea yang melihat wajah Rinze berbeda dengan sebelum dia ke rumahnya.

“ Enggak, enggak ribut kok. “ Jawab Rinze berbohong.

“ Oh bagus deh. Nah gitu donk akur, masa setiap ketemu ribut melulu. Kan enggak enak. “

“ Iya..iya. nah sekarang elo tidur lagi biar besok bisa sekolah. “ Perintah Rinze.

Ghea mengangguk dan melanjutkan tidurnya. Rinze merapikan selimut Ghea lalu mematikan lampu kamar. Rinze sendiri tidur di samping Ghea dan beberapa detik kemudian yang terdengar hanya bunyi suara jangkrik yang menemani mereka tidur hingga pagi. Hari ini telah dilalui dengan perasaan yang lelah. Mudah-mudahan hari esok menanti mereka dengan perasaan yang ceria dan semangat untuk menjalani semua aktivitas masing-masing.

♣♣♣

This entry was posted on 07.35 . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Posting Komentar (Atom) .

0 komentar