Duk!!! Duk!!! Duk!!! Ditengah lapangan terlihat seorang perempuan dengan tinggi 163 cm sedang mendribble bolanya untuk mencetak three point padahal siang itu cuaca sedang tidak bersahabat dari panasnya sinar matahari yang sangat terik. Dia dengan seriusnya memasukkan bola dan tidak peduli dengan keringatnya yang mengalir dengan deras tetapi dari tadi tidak ada satu pun bola yang masuk dengan baik dan ini adalah bola yang kesekian kali gagal dimasukkannya.
“ Ugh sial !!! “ Kata cewek itu.
Rupanya ada sesuatu yang mengganggu pikirannya sehingga dia menyudahi latihannya, memang selama ini dia selalu kepikiran dengan seseorang yang telah menyedot habis pikirannya dan membuat dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Menggangu malam-malamnya yang selama ini tenang, tak terusik.
“ Bego ! kenapa gw selalu mikirin dia sich? “ Batinnya dalam hati.
“ Rinze apa yang elo pikirin selama ini adalah sesuatu yang enggak lazim “.
Ternyata nama cewek itu adalah Rinze, cewek yang hobi bermain basket tetapi tidak pernah mau ikut ekskul basket padahal posisi untuk kapten dan bisa mengikuti pertandingan selalu terbuka lebar untuk dia tetapi semua ditolaknya dengan alasan takut ketinggalan pelajaran dan membuat ketua klub basket kecewa karena penolakannya. Mereka berharap agar Rinze bergabung dan memenangkan pertandingan yang selama ini mereka impi-impikan namun Rinze cukup senang dengan hobinya itu.
“ Anggie… Anggie… elo berhasil bikin gw kaya orang gila ! “ katanya dalam hati.
Satu lagi rahasia tentang Rinze, dia mempunyai orientasi seksual yang berbeda dengan teman-temannya yang selama ini ditutupinya hingga sekarang dan sekarang ini dia sedang menyukai seseorang yang bernama Anggie. Dia mengenal Anggie pada waktu MOS dimulai. Sebelumnya dia belum mengetahui tentang dirinya yang tidak normal tapi lama kelamaan, dia mengetahui dirinya lesbian pada waktu ketemu Anggie. Bertemu dengan cewek yang bisa membuat hatinya berdebar-debar tak karuan, Membuat dirinya tak bisa tenang berhari-hari.
Hari itu penyakit usilnya kumat dan korban-korbannya adalah teman-teman sekelasnya. Semua tas teman-temannya dimasukkan kodok, kontan seisi kelas berisik karena kedatangan tamu yang tidak diundang. Rinze yang melihat itu tertawa terbahak-bahak karena dia berhasil mengerjai teman-temannya. Alhasil teman-temannya tahu bahwa yang mengerjai mereka adalah Rinze. Mereka berniat untuk membalasnya tetapi Rinze berhasil kabur dan bersembunyi. Dia bersembunyi diruang perpustakaan karena tempat itu selalu sepi oleh pengunjung. Mereka mengejar Rinze yang berlari-lari dengan tawa mengejek. Itu membuat teman-temannya menjadi gemas dan semakin ingin menangkap Rinze. Mereka selalu kena dikerjai oleh Rinze yang sudah dikenal oleh semua teman-temannya sebagai tukang usil. Sehari tanpa usil, membuat hidupnya hampa. Itulah bagi Rinze.
Saat ingin mengejar, mereka kehilangan jejak Rinze. Mereka tak bisa menemukannya ditempat manapun. Mereka tidak mengetahui bahwa tukang usil itu bersembunyi ditempat yang tak terduga. Rinze buru-buru masuk ke perpus karena takut tertangkap oleh teman-temannya dan tanpa sadar dia telah menutup pintu dengan keras padahal pintu akan terkunci dengan otomatis bila ditutup dengan keras atau kencang-kencang. Dia mengintip dibalik jendela untuk mengetahui apakah teman-temannya masih mengejarnya atau tidak. Setelah dilihatnya, ternyata aman-aman saja. Dia berniat untuk keluar tetapi setelah gagang pintu ditarik-tarik, pintu itu tetap tidak bisa terbuka dan habis sudah kesabarannya.
“ Woiiii… buka pintunya !!! “ kata Rinze sambil berteriak.
Ceklek !!! Ceklek !!! Tetap saja pintu tidak bisa dibuka walaupun sudah digedor-gedor olehnya. Akhirnya Rinze menyerah karena usahanya tidak berhasil.
“ Damn it !!! “ umpat Rinze.
Memang emosi Rinze sudah reda tapi itu tidak membuat dia berhenti mengomel, Rinze menebarkan pandangannya kesekeliling ruangan itu dan menangkap sosok seorang cewek sedang tertidur disudut pojok ruangan. Dia menghampiri cewek itu dan ingin melihat siapa cewek yang sedang tertidur itu. Rupanya wajah cewek itu tertutup oleh rambut panjangnya dan membuat Rinze tidak bisa melihat wajahnya karena tidak ingin mengganggu, dia duduk diseberang cewek itu sambil mengambil sebuah buku dan membacanya. Sebenarnya dia berniat untuk membaca buku itu tetapi pandangannya tersita kearah cewek itu. Akhirnya wajah cewek itu terlihat juga karena rambut yang menutupi wajahnya telah tertiup oleh angin.
“ Wow… manis banget nich cewek.” Ujarnya dalam hati.
Tiba-tiba jantungnya berdebar-debar melihat pesona yang terpancar diwajah cewek itu. Ternyata benar apa yang dikatakan orang-orang selama ini bahwa kecantikan seseorang akan terlihat dengan jelas saat orang itu tertidur.
“ Qo gw jadi deg-degan gini sich? “ ujarnya dalam hati.
Akhirnya cewek itu terbangun dan menyadari bahwa ada orang lain selain dia di perpus. Rupanya cewek itu sadar kalau dia sedang diperhatikan oleh orang itu. Tadinya dia ingin diam saja tetapi karena dia dilihatin terus dan tak terbiasa bila ada orang yang melihatnya terus-menerus. Akhirnya cewek itu berbicara juga.
“ Ada apa ? qo liatin gw kaya gitu ? “ Tanya cewek itu pada Rinze.
“ Ada yang aneh sama muka gw ? “
“ Eh..hm..maaf enggak ada apa-apa kok.” Ujar Rinze gelagapan.
“ Oh… gw kirain ada iler dimuka gw hehehehe…” kata cewek itu sambil tertawa.
“ Oh ya gw belum kenal sama elo. Kenalin nama gw Anggie. “ katanya sambil mengulurkan tangan tapi yang diajak kenalan malah bengong.
“ Qo bengong? Tenang aja tangan gw ngga ada ilernya kok. “ kata Anggie sambil tersenyum dan itu membuat Rinze semakin tenggelam dalam lamunannya tapi itu tidak berlangsung lama.
“ Oh… iya. Gw Rinze. “ jawab Rinze membalas ulurkan tangan.
Rinze mengatur debaran jantungnya yang berdetak sangat cepat. Dia tidak mau kalau Anggie sampai mendengar suara detak jantungnya dan dia berusaha mengatur nafasnya yang naik turun.
“ Qo elo bisa ada disini ? Setau gw orang kaya elo paling anti sama ruangan kaya beginian dech. Sorry ya klo gw ngomong kaya gitu. “ Tanya Anggie memulai percakapan.
Memang setahu Anggie, selama ini jarang yang masuk ke ruang Perpustakaan dan menjadi sepi oleh pengunjung karena peminatnya sangat sedikit. Kalaupun ramai, itu juga dikarenakan murid-murid disini belum ada yang mengerjakan PR tetapi kebanyakan pasti menyontek dari pekerjaan teman-temannya.
“ Duh ngomong apa nich gw? Masa bilang kalo gw lagi ngumpet. “ pikirnya dalam hati.
“ Halooooooo… apa ada orang? “ Tanya Anggie sambil menggerak-gerakkan tangannya didepan wajah Rinze.
“ Gw lagi ngumpet disini soalnya gw dikejar-kejar sama teman-teman gw. “ aku Rinze akhirnya.
“ Kenapa? Kayak maling aja dikejar-kejar. “ ujar Anggie sambil tersenyum.
“ Gw kirain elo mau belajar disini. “
“ Enggak kok. “ kata Rinze.
“ Elo sendiri lagi ngapain disini,Nggie? Kok bisa tidur disini? “ Rinze juga tidak menyangka ada orang di perpus.
“ Gw lagi baca-baca aja, eh malah ketiduran. “ jelas Anggie.
“ Eh.. gw duluan ya coz ada pelajaran matematika nich. Elo kan tau sendiri gurunya killer abis, ngga bisa mentolerir muridnya telat sedikit. “ kata Anggie.
Memang guru matematika mereka killer banget. Beliau tidak bisa mentolerir murid yang datang terlambat pada waktu jam pelajarannya. Anggie berjalan kearah pintu tapi…
“ Kok ngga bisa dibuka ya? Kayanya tadi ngga terkunci dech? “ Tanya Anggie pada dirinya sendiri dengan heran.
“ Sorry… itu gara-gara gw nutup pintunya kencang-kencang. “ ucap Rinze merasa tidak enak.
“ APA !!! “
“ Duh gimana nich, udah gurunya killer banget lagi. “
Anggie tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi sama dia dan mengira-ngira hukuman apa yang akan menanti dirinya. Rinze yang melihatnya menjadi sangat bersalah sama Anggie karena dia yang menyebabkan hal ini terjadi.
“ Maafin gw ya. Gw ngga nyangka bakal kaya gini jadinya. “ ucap Rinze yang merasa sangat bersalah.
“ Ngga apa-apa kok. Elo ngga salah. Gw nya aja yang salah, baca kok sampai ketiduran. “ kata Anggie yang juga merasa tidak enak sama Rinze.
Sumpah mati saat itu Rinze mendengar alunan biola dari dalam hatinya. Saat itu juga Rinze jatuh cinta pada Anggie, Dia tidak tahu apa ini yang namanya ‘ love at the first sight ‘ karena dia baru merasakannya sekarang. Mulai sejak saat itu, dia selalu terbayang wajah manis Anggie.
“ Woi.. bengong aja ! lagi mikirin apa sich? “ Tanya seorang temannya yang dari tadi merhatiin Rinze dari kejauhan.
“ Eh elo Ghe.. sialan ngagetin gw aja ! elo mau gw kena serangan jantung apa? “ omel Rinze sama temannya yang bernama Ghea.
Ghea sendiri teman sekelas sekaligus teman sebangkunya. Mereka menjadi akrab pada waktu kelas 1 semester genap karena ada pertukaran kelas dan kebetulan mereka menjadi sekelas.
“ Ahh… Gw tau. Pasti lagi mikirin Anggie ya? “ goda Ghea yang sudah menduga kalau Rinze sedang memikirkan Anggie.
Ghea tahu semua hal yang berkaitan dengan Rinze begitu pun sebaliknya. Walaupun Rinze seorang lesbian, dia bisa menerima apapun kondisi temannya itu sehingga mereka menjadi teman akrab sampai sekarang. Tadinya Rinze tidak ingin Ghea mengetahui bahwa dia seorang lines tetapi setelah mendengar penjelasan dari temannya itu bahwa dia tidak membeda-bedakan teman apalagi sampai menjauhi, dia memberanikan diri untuk bercerita. Dalam hatinya, dia sangat bersyukur mempunyai teman seperti Ghea.
“ Iya nich gw lagi mikirin dia. Dimanapun gw berada, selalu aja muncul bayang-bayang dia.” Jawab Rinze dengan polosnya.
“ Kalau gitu, kenapa elo enggak tunjukin aja perasaan elo yang sebenarnya ke dia? Elo kan suka sama dia dari dulu.” Usul Ghea pada temannya itu.
“ Gw pengen banget Ghe… pengen banget tapi gw takut dijauhin sama dia, gara-gara tau tentang perasaan suka gw ke dia.”
“ Elo tau sendiri kan sekarang dia lagi pacaran sama cowok yang bernama Rendi.”
“ Iya sich, gw juga tau. Ya udahlah jangan mikirin dia terus abis ini kan ada ulangan matematika. Elo udah belajar belum?” Tanya Ghea. Ghea sudah tahu apa jawabannya karena dia tahu pasti Rinze tidak menyukai pelajaran itu.
“ Aduh gw lupa… kenapa sich ada pelajaran matematika di dunia ini?” keluh Rinze sambil merengut.
Ghea yang mendengarnya menjadi tertawa.
“ Tenang aja. Gw pasti bantuin elo.” Kata Ghea sambil mengedipkan mata.
“ Benar?? Wah elo emang sahabat gw yang paling baik, manis dan pengertian sama gw.” Puji Rinze sambil memeluk sahabatnya itu.
“ Eittt.. jangan senang dulu. Harus ada imbalannya, Pe… ce… l ayam hehehehe..”
“ Yeee !!! gw kirain elo benar-benar mau bantuin gw tapi ngga apa-apa deh buat elo apa sich yang enggak.” Kata Rinze akhirnya.
Mereka pun balik ke kelasnya. Rinze tidak bisa membayangkan apa jadinya dia nanti kalau saja tidak ada sahabatnya itu. Mungkin dia bisa stress. Ghea pun juga berpikiran hal yang sama seperti Rinze, beruntung bisa mempunyai sahabat seperti Rinze. Sebenarnya ada suatu hal yang disembunyikan selama ini oleh Ghea pada sahabatnya itu. Dia tidak ingin Rinze mengetahui hal itu sekarang karena tidak ingin merusak hubungan persahabatan yang ada sekarang. Di dalam kelas, Rinze stress banget menghadapi soal yang ada di depannya dan ingin sekali membakar soal itu tetapi ditahannya karena tidak ingin mendapat nilai merah. Melihat adanya kesempatan, Rinze menyontek pekerjaan dari Ghea dan Ghea hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu.
“ Rinze… Rinze.” Ujarnya dalam hati. Akhirnya surga dunia tiba juga, bel pulang sekolah telah berbunyi. Rinze yang mendengarnya menjadi senang. Dia pun mengumpulkan kertas jawabannya bersama Ghea dan menyerahkan pada gurunya yang sudah menunggu.
“ Ghe, elo jadi nginep kan dirumah gw?” Tanya Rinze mengingatkan kepada Ghea.
“ Siip…”
Dalam perjalanan pulang, mereka bercanda-canda di dalam mobil sambil mendengarkan lagu dari band kesukaan mereka, TATU. Menggosipkan apa saja bahkan sampai men-cak teman-teman mereka. Rinze memberhentikan mobilnya di supermarket,dia ingin membeli makanan ringan untuk mereka berdua dirumahnya. Di supermarket, Rinze mengambil makanan apa saja sudah seperti membeli untuk stock bulanan. Ghea hanya menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya membeli makanan yang banyak untuk mereka berdua. Selesai membeli snack, mereka melanjutkan perjalanan kerumah Rinze.
♣♣♣
Di lain jalan, terlihat sepasang remaja sedang bertengkar, disampingnya ada mobil yang bertuliskan plat nomor B 123 NDI. Berarti itu adalah mobil Rendi, cowoknya Anggie. Rendi berdiri berjauhan dengan Anggie sambil melipat tangannya. Dia sudah gerah dengan gossip-gossip yang ada dibelakangnya bahwa Anggie telah berselingkuh. Sekarang dia meminta penjelasan kepada kekasihnya apakah gossip yang didengarnya selama ini benar.
“ Mendingan elo ngomong yang sebenarnya sekarang karena gw udah tau apa yang elo lakuin dibelakang gw selama ini ! “ kata Rendi setengah berteriak.
“ Emangnya apa yang gw lakuin?” balas Anggie pura-pura tidak tahu.
“ Elo selingkuh kan dibelakang gw selama ini sama David, teman gw sendiri !”
“ Elo tega ya !” Rendi tak habis pikir bila benar Anggie mengkhianatinya.
“ ohh itu…gw kirain apaan.” Ucap Anggie enteng.
“ Berarti bener feeling gw dan gossip-gossip yang ada selama ini?”
Rendi tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini, cewek yang dia sayang selama ini ternyata selingkuh dengan temannya sendiri. Mereka pun terdiam sampai Anggie akhirnya berkata yang sangat menyakitkan untuk Rendi.
“ Teman elo aja yang deketin gw duluan jadi bukan salah gw donk kalau gw selingkuh. “
PLAAKK !!!
Tamparan yang lumayan keras mendarat di pipi sebelah kiri Anggie yang halus.
“ Elo emang cewek brengsek ! Kita putus !! ”
Rendi berjalan kearah mobilnya dan meninggalkan Anggie sendirian ditepi jalan yang hanya diam melihat Rendi pergi meninggalkannya.
Anggie hanya bisa mengelus-elus pipinya yang habis ditampar oleh Rendi sambil tersenyum kecut dan dia pun berjalan untuk mencari taksi. Sebuah taksi lewat didepannya, dia memanggil taksi dan memberhentikannya. Selama perjalanan, Anggie hanya diam sambil melihat keluar jendela. Entah kenapa hidupnya merasa hambar, bukan karena telah putus dengan Rendi melainkan ada hal lain yang dia sendiri juga tidak tahu apa itu dan putus dengan Rendi adalah hal yang biasa bagi Anggie yang selama ini sudah dilakukannya dan tak ada penyesalan didirinya karena menurut Anggie, putus satu tumbuh seribu.
“ Mau kemana Neng ? “ Tanya supir taksi itu akhirnya karena Anggie tak bersuara dan tidak memberitahukan tujuannya.
“ Jalan Alam Asri Pondok Indah, Pak.” Jawab Anggie sambil menyandarkan kepalanya di bangku dan memejamkan matanya.
♣♣♣
Sesampainya dirumah Rinze, mereka langsung bikin pesta sendiri. Maklum dia anak tunggal dan rumahnya sepi cuma ada dua pembantunya dan dia sendiri dirumah itu. Orang tuanya sudah bercerai sejak dia berusia 10 tahun. Kini dia tinggal bersama ibunya yang selalu sibuk dengan pekerjaannya sampai-sampai Rinze merasa tidak mempunyai orang tua sama sekali maka dari itu, Rinze sering mengajak Ghea untuk menginap dirumahnya tetapi untungnya walaupun dia anak dari keluarga yang broken home, dia tidak terbawa oleh pergaulan bebas yang sedang trend belakangan ini dikalangan remaja.
“ Akhirnya sampe juga, gw kebelakang dulu ya, Ghe.” Rinze langsung kebelakang rumahnya yang entah mau kemana.
Ghea pun langsung menghampiri lemari es untuk mengambil minuman bahkan Ghea sendiri hapal betul dengan isi rumah ini dan menyalakan DVD di ruang keluarga seperti rumahnya sendiri, tidak lama kemudian terdengar lagu dari TATU. Tak lama kemudian, Rinze langsung bergabung bersama Ghea. Dia sudah berganti pakaian, dia hanya memakai celana pendek dengan baju yang menutupi celananya.
“ Aduh cakep banget. “ ujar Ghea dalam hati.
“ Mau makan apa, Ghe? Kayanya pembantu gw lagi enggak ada nich. “ Tanya Rinze sambil berjalan ke dapur.
“ Terserah elo aja. Gw ngikut. “ teriak Ghea karena Rinze sudah ada di dapur.
Rinze mengambil bahan makanan yang ada di kulkas dan ingin membuat nasi goreng. Maklum yang dia bisa hanya membuat nasi goreng dan mie instan. 15 menit kemudian nasi goreng buatannya matang. Dia pun langsung memanggil Ghea.
“ Ghe..makanannya udah jadi nich. “
Ghea yang mendengarnya langsung menuju ruang makan. Ghea bisa mencium aroma yang sangat lezat saat ia mendatangi Rinze untuk makan bersama.
“ Kayanya enak nich. “
“ Siapa dulu donk yang bikin. “ ucap Rinze membanggakan dirinya sendiri didepan Ghea.
“ PD banget elo !” cibir Ghea.
“ Tapi enggak apa-apa deh. Untuk yang satu ini, gw acungin jempol deh. “
“ Hehehe..gitu donk. Ya udah makan dulu gih. “ ajak Rinze.
Akhirnya malam pun tiba. Seperti biasa mamanya Rinze belum pulang. Beliau biasanya pulang tengah malam bahkan pernah tidak pulang sama sekali. Sebenarnya Rinze sangat kesepian dirumahnya yang besar itu tetapi sekarang sudah agak mendingan semenjak Ghea sering menginap dirumahnya. Kalau sudah seperti ini, mereka pasti mengobrol dan ujung-ujungnya akan bergadang, seperti mala mini, mereka mengobrol sampai pagi.
“ Rin.. yang elo suka dari Anggie apanya sich? Padahal elo tau sendiri, dia kan playgirl, suka gonta-ganti cowok? “ Tanya Ghea saat rebahan disamping Rinze.
“ Gw juga tau tapi coba elo perhatiin deh. Dia tuh kesepian banget. Gw tau banget gimana rasanya kesepian. Enggak punya orang yang nemenin saat kita butuh teman untuk berbagi rasa. Seperti halnya gw. Gw disini kesepian. Nyokap selalu sibuk dengan pekerjaannya, sampai gw pun rasa, sebenarnya gw punya orang tua apa enggak sich tapi gw beruntung karena punya sahabat kayak elo yang selalu nemenin gw. “
“ Gw juga pengen banget jagain dia, gw enggak ingin dia sampai terluka. “ ucap Rinze sambil memeluk gulingnya. “ Elo sendiri Ghe, kok gw liat belum punya cowok? Kayanya kalo gw perhatiin, banyak banget cowok yang pengen jadi pacar elo. “ tanyanya menatap Ghea.
Ghea Cuma diam mendengar pertanyaan dari Rinze, dia sebenarnya juga sudah tahu kalau cowok banyak yang suka dan ingin menjadi pacarnya tapi ditolak semua karena dihatinya Cuma ada satu orang yang akan mengisi hari-hari dia dengan kebahagiaan dan cinta.
“ Haloooww..Ghea yang cantik, kok diem aja sich? “ Rinze heran melihat Ghea yang hanya diam.
“ Gw enggak mau punya pacar dulu. Mendingan pikirin sekolah dulu dech, urusan pacaran itu mah belakangan. Kalau udah jodoh enggak bakal kemana. “ ungkap Ghea mengedipkan matanya.
“ Ah sok tahu elo tapi gw dukung deh. “
“ Tidur yuk Ghe, mata gw udah lowbatt nich. “ ajak Rinze sambil mematikan lampu kamarnya.
“ Good night. “ kata Ghea.
“ Night too. “
Dalam hitungan beberapa detik, Rinze sudah terlelap dan menuju ke alam mimpi. Rinze tidak menyadari bahwa Ghea belum tidur dan masih memperhatikan Rinze yang sudah tidur. Sebetulnya dia ingin sekali cerita kepada Rinze tentang hal yang selama ini dia sembunyikan tetapi melihat wajah polos Rinze, Ghea mengurungkan niatnya untuk bercerita karena tidak ingin membuat temannya itu menjadi susah. Tidak lama kemudian Ghea pun menyusul tidur tetapi sebelum dia tidur, dia mendaratkan sebuah ciuman di bibir Rinze.
“ Semoga mimpi indah. “ Bisik Ghea.
♣♣♣
This entry was posted
on 07.15
.
You can leave a response
and follow any responses to this entry through the
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.
Mengenai Saya
- gEephEe
- gw biasa-biasa j.ga da yg spesial dlm diri gw tp saat ini gw lg seneng nulis.gw pgn bqn novel
0 komentar