FORBIDDEN LOVE TRIANGLE 2  

Diposting oleh gEephEe

Burung berkicau dengan sangat merdunya dan udarapun juga sangat cerah. Hari ini Rinze dan Ghea berencana untuk pergi jalan-jalan karena hari ini adalah hari minggu. Mereka pergi ke sebuah Mall yang berlokasi di Jakarta Barat.

“ Elo mau makan dimana Ghe? “ Rinze berpakaian sangat santai, dia memakai celana jeans pendek dan mengenakan sweater berwarna abu-abu.

“ Hm.. gimana kalau di Tamani Kafe. “ usul Ghea.
Mereka punya hobi yang sama yaitu hunting makanan yang enak-enak. Mereka sudah sering mendatangi tempat makanan yang ada dimana saja.

“ Boleh juga tuch. Let’s go. “

Sesampainya disana mereka langsung memesan makanan. Ghea yang pesan makanan sedangkan Rinze memilih tempat yang nyaman. Dia melihat pemandangan diluar dan langsung memutuskan untuk duduk diluar. Pemandangan yang sangat indah itulah Rinze memilih untuk duduk diluar.

“ Makanan datang. “ Ghea datang bersama pelayan yang membawa makanan mereka.

Rinze menerimanya dengan sangat antusias tetapi sebelumnya dia menarik kursi untuk Ghea duduk. Ghea begitu sangat senang dengan perhatian Rinze untuknya.

“ Elo enggak diomelin kan sama nyokap elo gara-gara nginep dirumah gw terus kan? Gw jadi enggak enak sama nyokap elo nich. Ntar sangkanya gw culik anaknya. “ dia sebenarnya merasa tidak enak banget dengan mamanya Ghea walau pun dia juga kenal dekat dengan beliau.

“ Tenang aja kali. Elo kaya baru kenal nyokap gw aja. “ Kata Ghea.

“ Tapi lain kali gantian oke. Elo yang nginep dirumah gw. “

“ Iya..iya. “ Ucap Rinze.

Saat ingin sedang makan,Rinze tidak sengaja melihat seorang cewek yang sedang berciuman diseberang jalan. Dia sepertinya mengenal cewek yang sedang berciuman itu karena cewek itulah yang selalu hadir dalam mimpi-mimpinya.

“ itu kan kalau enggak salah Anggie terus siapa lagi cowok yang ciuman sama Anggie. “ Ucapnya dalam hati.

“ Heh..elo ngapain sich? Kayak liat hantu aja. “ Tanya Ghea yang heran melihat wajah Rinze melongo.

“ Eh Ghe..Ghe…itu kalau enggak salah Anggie kan? “

“ Yang mana? “ Ghea celingukan mencari sosok Anggie ditengah keramaian.

“ Itu !! Cewek yang pake tank top putih sama pake topi. “ Tunjuk Rinze memberi arah.

“ Iya tuch. Lagi ngapain dia disitu tapi siapa tuch yang ada disampingnya. “ Tanya Ghea yang melihat cowok itu dengan mesra memeluk Anggie.
Rinze yang melihatnya menjadi cemburu. Dia tidak menyangka akan melihat Anggie dipeluk dan berciuman sama orang lain dengan mata kepalanya sendiri.

“ Kita pulang yuk Ghe, gw jadi enggak mood lagi buat makan. “

“ Yach kok gitu? Makanannya aja belum habis. “ Tetapi setelah melihat wajah Rinze, Ghea pun langsung beranjak dari tempat makan mereka.

Selama diperjalanan, Rinze tidak bersuara sama sekali. Dia hanya diam dan pandangan matanya lurus kedepan, seakan dia bisa menemukan sosok Anggie didepan mobilnya.

“ Rin..apa elo segitu mencintai Anggie sampai enggak bisa melihat disekitar elo bahwa ada orang yang sangat mencintai elo.” Gumam Ghea yang melihat Rinze menyetir tanpa bersuara dan tidak menoleh kepadanya.

Akhirnya mereka sampai juga didepan rumah Ghea dan Rinze mampir sebentar karena merasa tidak enak dengan mamanya Ghea yang sedang ada didepan teras sedang minum teh.

“ Eh Rinze..makan dulu yuk ! Tante habis masak nich. “ Ajak mamanya Ghea setelah tahu bahwa yang datang adalah Rinze, sahabat anaknya.

“ Makasih Tan..saya udah makan kok diluar sama Ghea. Nanti deh saya kesini lagi makan masakan Tante tapi Tante jangan kaget karena saya makannya banyak loh hehehehe..” Canda Rinze yang ditanggapi senyuman oleh mamanya Ghea.

“ Kamu tuch bisa aja. “ Ucap mamanya Ghea.

Ghea hanya diam melihat Rinze dan mamanya bercanda. Ghea tidak ikut mengobrol karena sedang sedih mengetahui kenyataan bahwa Rinze sangat mencintai Anggie.

“ Ya udah Tante udah malam. Saya permisi pamit dulu,Tan. “ Pamit Rinze sambil mencium tangan mamanya Ghea.

Mamanya Ghea atau Ibu Dian memang sudah dianggap sebagai ibunya sendiri oleh Rinze. Beliau merupakan sosok yang hangat dan ibu idaman yang selama ini diinginkan oleh Rinze. Berbeda dengan mamanya yang selalu sibuk bekerja dan tak pernah ada waktu untuknya. Sebaliknya, mamanya Ghea pun juga sudah menganggap Rinze seperti anaknya.

“ Ya udah kamu hati-hati ya di jalan. Awas jangan sampai mengebut. “ Perintah Ibu Dian pada Rinze dan Rinze mengangguk sambil berjalan ke mobilnya. Ghea mengantarkannya sampai pintu gerbang.
“ Gw balik ya dan makasih udah nemenin gw hari ini. “ Ucap Rinze sambil menghidupkan mobilnya.

“ Hati-hati ya ! inget kata nyokap gw, jangan ngebut. “ kata Ghea mengingatkan Rinze kembali.

Rinze hanya tersenyum mendengarnya lalu dia menjalankan mobilnya. Ghea masih memperhatikannya sampai mobil itu hilang dibelokan dan dia pun masuk kerumahnya.

♣♣♣

Langit sudah berubah menjadi gelap dan malampun datang mengganti siang dan sore. Lampu dijalanan sudah mulai dihidupkan dan suasana jalan mulai sepi karena sudah ada yang masuk kedalam rumahnya tetapi tak sedikit yang masih nampak di jalan. Di kamarnya,Ghea berbaring ditempat tidurnya. Dia masih terbayang dengan kejadian tadi siang, dia ingat jelas bagaimana wajah Rinze melihat Anggie bersama cowok barunya. Sebuah lagu dari NAFF mengalun keluar dari ipodnya. Ghea pun mengingat kembali waktu pertama kali dia bertemu Rinze.

Hujan turun sangat deras mewarnai sore hari ini. Sepertinya langit sudah capek dengan cuaca yang selalu panas karenanya hari ini diturunkan hujan untuk membasahi jalanan yang kering karena cuaca selalu panas. Di halaman sekolah dekat pintu gerbang terlihat seorang cewek yang sedang berteduh untuk menunggu hujan berhenti. Dia tidak membawa apapun seperti payung atau jaket karena tidak menyangka akan turun hujan padahal dia mempunyai alergi terhadap udara dingin. Itu adalah Ghea. Dia berharap agar hujan segera berhenti tetapi bukannya berhenti, malah hujannya bertambah deras. Di sampingnya ada seorang cewek yang mengenakan sweater. Ghea mengenal cewek itu, namanya Rinze. Semua murid disini pasti mengenal dengan Rinze karena cewek itu termasuk orang yang ramah dan murah senyum. Banyak yang mengenal dengan Rinze, termasuk salah satunya dia sendiri. Rinze melihat Ghea sedang menggigil dengan wajah yang pucat. Rinze kasihan melihatnya, dia dengan segera melepaskan sweater yang sedang dikenakannya itu dan memberikannya kepada Ghea.

“ Ini elo pake, muka elo pucat banget tuch. “ Kata Rinze tiba-tiba dan mengagetkan Ghea yang sedang melamun.

“ Makasih tapi enggak apa-apa kok. Ntar juga baik sendiri. “ Tolak Ghea halus.

Tapi Rinze tidak menyerah begitu saja.

“ Udah pake aja. “ Paksa Rinze.

Ghea akhirnya memakai sweater pemberian dari Rinze. Ternyata sweater itu kebesaran dibadan Ghea. Rinze yang melihatnya menjadi tertawa, dia seperti melihat anak kecil saja.
“ Gimana udah mendingan ? “

“ Iya. Udah mendingan, makasih ya. “ kata Ghea.

Rinze mengangguk sambil tersenyum. Ghea merasakan wajahnya menjadi hangat setelah melihat Rinze tersenyum. Sejak saat itu, mereka menjadi akrab. Rinze sering membantu Ghea disaat dia sedang membutuhkan pertolongan dan benih-benih cinta di hati Ghea mulai tumbuh sampai saat ini. Karena itu dia selalu menolak cowok yang ingin menjadi pacarnya karena dia sendiri seorang lesbian juga.

“ Rin, kenapa yang elo liat Cuma Anggie, Anggie dan Anggie ? Kenapa elo enggak liat gw bukan sebagai teman elo melainkan orang lain yang mencintai elo. Gw cinta sama elo, Rin ! “ Gumam Ghea.

Ghea tidak bisa mengungkapkan perasaannya kepada Rinze karena dia tahu, Rinze hanya mencintai Anggie. Ghea cukup senang dengan berada disisi Rinze dan menjadi temannya dan membantu Rinze untuk dekat dengan Anggie walaupun dia sendiri juga cemburu melihatnya.

“ Gw enggak akan nyakitin elo seperti Anggie. “ Ucapnya lagi dan dia serius dengan ucapannya karena dia sangat mencintai Rinze.

Malam semakin larut dan Ghea pun jatuh tertidur dengan membawa bayang-bayang Rinze dalam mimpinya. Sepertinya cinta segitiga seorang lesbian sedang terjadi dikehidupan remaja-remaja ini.

♣♣♣

Pagi ini Rinze berangkat sekolah dengan senyum menghiasi bibirnya, dia senang karena bisa bertemu lagi dengan pujaan hatinya setelah kemarin libur. Dia kangen sekali dengan Anggie bahkan sepertinya dia lupa dengan kejadian kemarin, melihat Anggie dengan cowok lain.

“ Kenapa elo ? pagi-pagi udah kayak orang gila, Senyum-senyum sendiri. Elo masih waras kan ? “ Ghea memegang jidatnya Rinze untuk memastikan bahwa temannya itu sakit atau tidak.

“ Obat elo abis ya ? “ Ghea masih heran melihat Rinze seperti itu.

“ Hari ini gw bakal deketin Anggie, gw pengen kenal lebih jauh semua hal tentang dia. “

Ghea yang mendengarnya hanya bisa diam.

“ Liat gw Rin !!! Liat gw sebagai orang yang mencintai elo. Apa Cuma ada Anggie di hati elo ? “ Teriak Ghea dalam hatinya tetapi dia hanya bisa menahan perasaannya.

“ Nah gitu donk ! Dari dulu apa elo deketin Anggie. Gw kira elo bakal diam aja. “ Ejek Ghea.

“ Thanks ya atas dukungannya. Gw berterima kasih banget sama Tuhan karena udah memberikan sahabat kayak elo. “ Rinze memeluk Ghea dengan erat.

“ Sama-sama. “ Ghea membalas pelukan Rinze dan diam-diam menitikkan air matanya tetapi secepat itu pula dia menghapusnya karena tidak ingin Rinze tahu kesedihannya.

Ghea tahu bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan tetapi itu tidak membuatnya untuk jauh dengan Rinze. Dia ingin selalu ada di samping Rinze, saat Rinze sedang kesusahan ataupun senang dan dia senang dengan tindakannya itu. Cinta adalah memberi. Dia hanya bisa memberi dan memberi, itu baru namanya cinta sejati dan Ghea yakin, suatu saat Rinze akan membalas perasaan cintanya.

Bel tanda masuk telah berbunyi. Murid-murid segera masuk ke kelasnya masing-masing untuk mengikuti pelajaran. Rinze dan Ghea segera duduk di bangkunya karena guru telah masuk kelas mereka untuk memberikan pelajaran. Selama pelajaran berlangsung, Rinze mengikutinya dengan semangat. Diam-diam Ghea merasa lega karena Rinze telah kembali bersemangat seperti Rinze yang dia kenal.

Di depan kelasnya, Anggie lewat. Rinze yang seperti mempunyai radar segera menoleh keluar.

“ Duh istirahat kok rasanya lama banget ya? Gw pengen cepet-cepet keluar nich. “ Bisik Rinze.

“ Sabar kenapa, mank ada apaan sich sampai pengen cepet-cepet istirahat? “ Tanya Ghea setengah berbisik juga.

“ Tadi Anggie lewat. Duh cakep banget dia hari ini. “ Rinze langsung berkhayal tentang Anggie.

“ Ternyata cinta itu bisa membuat teman gw jadi orang bego ya termasuk gw. “ Ghea keceplosan ngomong di depan Rinze.

“ Ah..apa Ghe? “ Rupanya Rinze tidak mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Ghea.

Ghea bersyukur banget karena Rinze tidak mendengar apa yang barusan dia katakana itu. Dia tidak ingin Rinze sampai bertanya-tanya kepadanya.
“ Ah enggak kok. Bukan apa-apa. “

Ghea tertolong karena bel istirahat telah berbunyi. Dia jadi punya alasan untuk menghindar.

“ Udah istirahat nich. Katanya mau cepet-cepet keluar? Kok masih disini? “ Kata Ghea.

“ Pengennya sich gitu tapi gw baru inget kalo gw belum ngerjain PR. “ Rinze sangat menyesal sekali karena semalam dia lupa mengerjakan PR padahal hari ini dia sudah menyiapkan mental untuk PDKT sama Anggie.

“ Gw pinjam PR elo donk Ghe? “ Pintanya pada Ghea.

“ Ambil aja di tas. Oh iya, elo mau nitip apa? Mumpung gw lagi baik nich. “ Tanya Ghea sebelum meninggalkan kelas.

“ Kalo bisa, gw nitip Anggie aja deh hehehehe. “ Canda Rinze.

“ Enggak janji ya untuk yang satu itu. “ Ghea langsung berlalu dari hadapan Rinze.

♣♣♣

This entry was posted on 06.03 . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Posting Komentar (Atom) .

0 komentar